Keraton kesultanan Yogyakarta Hadiningrat / Jawa – D.I. Yogyakarta

Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat atau Keraton Yogyakarta merupakan istana resmi kesultanan Ngayogyakarta Hadiningrat yang kini berlokasi di Kota Yogyakarta, D. I. Yogyakarta.
Keraton ini didirikan oleh Sri Sultan Hamengkubuwana I pada tahun 1755

Lokasi


Foto Keraton Yogyakarta: di bawah


Kesultanan dan Kadipaten sekarang di Jawa Tengah

* Kesultanan Yogyakarta
* Kesultanan Surakarta: link
* Kadipaten Mangkunegaran: link
* Kadipaten Paku Alaman: link


Kesultanan Mataram, 1586 – 1755

Kesultanan Mataram: link


Keraton bekas kesultanan Mataram

– Keraton Kota Gede: link
Keraton Karta: link
Keraton Plered: link
Keraton Kartasura: link


Keraton sekarang di Surakarta dan Yogyakarta

Keraton kesultanan Yogyakarta
– Keraton kesultanan Surakarta: link
– Keraton kadipaten Mangkunegaran: link
– Keraton kadipaten Paku Alaman: link


KERATON YOGYAKARTA HADININGRAT

Umum

Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat atau Keraton Yogyakarta merupakan istana resmi Kesultanan Ngayogyakarta Hadiningrat yang kini berlokasi di Kota Yogyakarta.
Keraton ini didirikan oleh Sri Sultan Hamengkubuwana I pada tahun 1755 sebagai Keraton Yogyakarta yang baru berdiri akibat perpecahan Mataram Islam dengan adanya Perjanjian Giyanti (1755).
Melalui Perjanjian Giyanti (1755) kesultanan Mataram bagi menjadi dua:
* Kesultanan Yogyakarta dan
* Kesunanan Surakarta.

Total luas wilayah keseluruhan keraton Yogyakarta mencapai 184 hektar, yakni meliputi seluruh area di dalam benteng Baluwarti, alun-alun Lor, alun-alun Kidul, gapura Gladak, dan kompleks Masjid Gedhe Yogyakarta. Sementara luas dari kedhaton (inti keraton) mencapai 13 hektar.
Walaupun Kesultanan Yogyakarta secara resmi telah menjadi bagian Republik Indonesia pada tahun 1945, kompleks bangunan keraton ini masih berfungsi sebagai tempat tinggal sultan dan rumah tangga istananya yang masih menjalankan tradisi kesultanan hingga saat ini.
Sebagian kompleks keraton merupakan museum yang menyimpan berbagai koleksi milik kesultanan, termasuk berbagai pemberian dari raja-raja Eropa, replika pusaka keraton, dan gamelan. Dari segi bangunannya, keraton ini merupakan salah satu contoh arsitektur istana Jawa yang terbaik, memiliki balairung-balairung mewah dan lapangan serta paviliun yang luas.


Sejarah berdirinya keraton Yogyakarta

Kesultanan Mataram Islam resmi berdiri pada tahun 1586.

Ibu kota kesultanan Mataram kemudian berpindah beberapa kali:
* Keraton Kotagede: 1587–1613
* Keraton Karta: 1613–1645
* Keraton Plered: 1646–1680
* Keraton Kartasura: 1680–1745

Secara garis besar isi Perjanjian Giyanti (1755) adalah membagi Mataram menjadi dua bagian, yakni:
* Kesunanan Surakarta di bawah kepemimpinan Pakubuwana III dan
* Kesultanan Yogyakarta di bawah kepemimpinan Pangeran Mangkubumi yang kemudian bergelar Hamengkubuwana I.

Keraton Yogyakarta mulai didirikan oleh Sultan Hamengku Buwono I pada 1755, setelah kerajaan Mataram Islam terpecah menjadi dua (Yogyakarta dan Surakarta).

Lokasi keraton ini konon adalah bekas sebuah pesanggarahan, yang bernama Garjitawati. Pesanggrahan ini digunakan untuk istirahat iring-iringan jenazah raja-raja Mataram (Kartasura dan Surakarta) yang akan dimakamkan di Imogiri.
Versi lain menyebutkan lokasi keraton merupakan sebuah mata air, Umbul Pacethokan, yang ada di tengah hutan Beringan.
Sebelum menempati Keraton Yogyakarta, Sultan Hamengku Buwono I berdiam di Pesanggrahan Ambar Ketawang yang sekarang termasuk wilayah Kecamatan Gamping Kabupaten Sleman.

Secara fisik istana para Sultan Yogyakarta memiliki tujuh kompleks inti yaitu:
Siti Hinggil Ler (Balairung Utara),
Kamandhungan Ler (Kamandhungan Utara),
Sri Manganti,
Kedhaton,
Kamagangan,
Kamandhungan Kidul (Kamandhungan Selatan), dan
Siti Hinggil Kidul (Balairung Selatan).

Selain itu Keraton Yogyakarta memiliki berbagai warisan budaya baik yang berbentuk upacara maupun benda-benda kuno dan bersejarah. Di sisi lain, Keraton Yogyakarta juga merupakan suatu lembaga adat lengkap dengan pemangku adatnya. Oleh karenanya tidaklah mengherankan jika nilai-nilai filosofi begitu pula mitologi menyelubungi Keraton Yogyakarta. Dan untuk itulah pada tahun 1995 Komplek Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat dicalonkan untuk menjadi salah satu Situs Warisan Dunia UNESCO.


Arsitektur

Secara umum tiap kompleks utama terdiri dari halaman yang ditutupi dengan pasir dari pantai selatan, bangunan utama serta pendamping, dan kadang ditanami pohon tertentu. Kompleks satu dengan yang lain dipisahkan oleh tembok yang cukup tinggi dan dihubungkan dengan Regol yang biasanya bergaya Semar Tinandu. Daun pintu terbuat dari kayu jati yang tebal. Di belakang atau di muka setiap gerbang biasanya terdapat dinding penyekat yang disebut Renteng atau Baturono. Pada regol tertentu penyekat ini terdapat ornamen yang khas.

Bangunan-bangunan Keraton Yogyakarta lebih terlihat bergaya arsitektur Jawa tradisional. Di beberapa bagian tertentu terlihat sentuhan dari budaya asing seperti Portugis, Belanda, bahkan Tiongkok. Bangunan di tiap kompleks biasanya berbentuk/berkonstruksi Joglo atau derivasi/turunan konstruksinya.
Joglo terbuka tanpa dinding disebut dengan Bangsal sedangkan joglo tertutup dinding dinamakan Gedhong (gedung). Selain itu ada bangunan yang berupa kanopi beratap bambu dan bertiang bambu yang disebut Tratag. Pada perkembangannya bangunan ini beratap seng dan bertiang besi.

Permukaan atap joglo berupa trapesium. Bahannya terbuat dari sirap, genting tanah, maupun seng dan biasanya berwarna merah atau kelabu. Atap tersebut ditopang oleh tiang utama yang di sebut dengan Soko Guru yang berada di tengah bangunan, serta tiang-tiang lainnya.
Tiang-tiang bangunan biasanya berwarna hijau gelap atau hitam dengan ornamen berwarna kuning, hijau muda, merah, dan emas maupun yang lain. Untuk bagian bangunan lainnya yang terbuat dari kayu memiliki warna senada dengan warna pada tiang. Pada bangunan tertentu (misal Manguntur Tangkil) memiliki ornamen Putri Mirong, stilasi dari kaligrafi Allah, Muhammad, dan Alif Lam Mim Ra, di tengah tiangnya.


Sumber

– Keraton Yogyakarta lengkap: https://id.wikipedia.org/wiki/Keraton_Ngayogyakarta_Hadiningrat
Keraton Yogyakarta: https://www.kratonjogja.id/cikal-bakal


Foto Keraton Yogyakarta


Create a free website or blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: