Karangasem, kerajaan / Bali – kab. Karangasem

Kerajaan Karangasem, 1600–1950, Terletak di kab. Karangasem, prov. Bali.
Kerajaan Karangasem adalah salah satu kerajaan Hindu yang berdiri pada abad ke-17 di bagian timur Pulau Bali. Pada masa kejayaannya, Kerajaan Karangasem bahkan memiliki wilayah kekuasaan hingga Pulau Lombok. Setelah ditaklukkan Belanda pada tahun 1894, kerajaan ini berada di bawah kekuasaan pemerintah Hindia Belanda.

The kingdom of Karangasem: 1600-1950. Located on the province of Bali.
For english, click here

Lokasi kab. Karangasem

———————
Lokasi pulau Bali


* Foto kerajaan Karangasem: link
Foto istana Puri Agung Karangasem: link

* Foto istana Puri Gde Karangasem: link
* Foto istana Taman Sukasada: link

* Foto foto Bali dulu: link
* Foto foto situs kuno di Bali: link
* Foto foto puputan Denpasar, 1906: link
* Foto foto puputan Klungkung, 1908: link


Tentang raja sekarang

Sejak 2009: Anak Agung Agung Gede Putra Agung, sebagai kepala keluarga besar Puri Agung Karangasem.


Sejarah / History kerajaan Karangasem, 1600–1950

Pada abad ke-16 sampai abad ke-17, Karangasem berada di bawah kekuasaan Kerajaan Gelgel, dengan rajanya I Dewa Karangamla yang berkedudukan di Selagumi (Balepunduk). I Dewa Karangamla menikahi janda I Gusti Arya Batanjeruk, patih kerajaan yang melakukan pemberontakan dan dibunuh di Desa Bungaya, dengan syarat bahwa setelah pernikahan keduanya, kelak anak dari janda Batanjeruklah yang menjadi penguasa. Syarat ini disetujui dan kemudian keluarga I Dewa Karangamla berpindah dari Selagumi ke Batuaya. I Dewa Karangamla juga mempunyai putra dari istrinya yang lain bernama I Dewa Gde Batuaya. Penyerahan kekuasaan kepada putra dari janda Batanjeruk inilah menandai awal mula berdirinya Kerajaan Karangasem yang dipegang oleh Dinasti Batanjeruk.

Setelah Raja I Gusti Anglurah Ketut Karangasem wafat, pemerintahan Kerajaan Karangasem dipegang oleh I Gusti Gede Karangasem (Dewata di Tohpati) antara tahun 1801-1806. Pada saat itu wilayah Kerajaan Karangasem semakin besar yang meluaskan kekuasaannya sampai ke Buleleng dan Jembrana.

Gusti Bagus Jelantik, Raja Karangasem dengan istri dan anak perempuannya tahun 1923

Kerajaan Karangasem, Bali | Gusti Bagus Jelantik, Raja Karan… | Flickr

Kemenangan Kerajaan Buleleng melawan kekuasaan Kerajaan Karangasem menyebabkan raja Karangasem, I Gusti Lanang Peguyangan, menyingkir dan saat itu Kerajaan Karangasem berbalik dikuasai oleh raja Buleleng, I Dewa Pahang. Kekuasaan akhirnya dapat direbut kembali oleh I Gusti Lanang Peguyangan. Pemberontakan seorang punggawa kerajaan yang bernama I Gusti Bagus Karang pada tahun 1827 berhasil menggulingkan I Gusti Lanang Peguyangan sehingga melarikan diri ke Lombok, dan tahta Kerajaan Karangasem dipegang oleh I Gusti Bagus Karang.

Ketika I Gusti Bagus Karang gugur dalam menyerang Lombok, pada saat yang sama raja Buleleng, I Gusti Ngurah Made Karangasem, berhasil menaklukan Karangasem dan mengangkat menantunya I Gusti Gede Cotong menjadi raja Karangasem.

Kelompok-kelompok bangsawan Bali dari Kerajaan Karangasem kemudian mulai menguasai bagian barat Pulau Lombok. Salah satu dari mereka, yaitu kelompok Bali-Mataram, berhasil menguasai lebih banyak daripada kelompok asal Bali lainnya, dan bahkan pada akhirnya menguasai keseluruhan pulau ini pada tahun 1839. Sejak saat itu kebudayaan istana Bali juga turut berkembang di Lombok.

Pada tanggal 25 Agustus 1891, putra penguasa Bali-Mataram yaitu Anak Agung Ketut Karangasem dikirim, beserta 8.000 orang tentara, untuk menumpas pemberontakan di Praya, yang termasuk wilayah Kerajaan Selaparang. Pada tanggal 8 September 1891, pasukan kedua, di bawah putra lainnya, Anak Agung Made Karangasem, yang berkekuatan 3.000 orang dikirimkan sebagai pasukan tambahan. Karena tentara kerajaan tampak dalam kesulitan untuk mengatasi keadaan, diminta lagi bantuan penguasa bawahan Karangasem, yaitu Anak Agung Gede Jelantik, untuk mengirimkan 1.200 orang pasukan elit untuk menuntaskan pemberontakan. Perang berkecamuk berkepanjangan sejak 1891 hingga 1894, dan tentara Bali-Mataram yang lebih canggih persenjataannya dilengkapi dengan dua kapal perang modern, Sri Mataram dan Sri Cakra, berhasil menduduki banyak desa yang memberontak dan mengelilingi kubu perlawanan Sasak yang terakhir.

Pada tanggal 8 November 1894, Belanda secara sistematis menembakkan meriam kepada posisi pasukan Bali di Cakranegara, sehingga menghancurkan istana, menewaskan sekitar 2.000 orang Bali, sementara mereka sendiri kehilangan 166 orang. Pada akhir November 1894, Belanda telah berhasil mengalahkan semua perlawanan Bali, dengan ribuan orang Bali menjadi korban tewas, menyerah, atau melakukan ritual puputan. Lombok dan Karangasem selanjutnya menjadi bagian dari Hindia Belanda, dan pemerintahan dijalankan dari Bali. Gusti Gede Jelantik diangkat sebagai Regent oleh Belanda pada tahun 1894, dan ia memerintah hingga tahun 1908.

Agustus 1950. Pemerintahan swapraja-swapraja (kerajaan) di Bali diubah menjadi Dewan Raja-Raja dengan berkedudukan di Denpasar dan diketuai oleh seorang raja. Pada bulan Oktober 1950, pemerintahan Swapraja Karangasem berbentuk Dewan Pemerintahan Karangasem yang diketuai oleh ketua Dewan Pemerintahan Harian yang dijabat oleh Kepala Swapraja (Raja) serta dibantu oleh para anggota Majelis Pemerintah Harian.

Pada tahun 1951, istilah Anggota Majelis Pemerintah Harian diganti menjadi Anggota Dewan Pemerintah Karangasem. Berdasarkan UU No. 69 tahun 1958 terhitung mulai tanggal 1 Desember 1958, daerah-daerah swapraja di Bali diubah menjadi Daerah Tingkat II setingkat kabupaten, termasuk Karangasem.

Kerajaan Karangasem adalah salah satu kerajaan Hindu yang berdiri pada abad ke-17 di bagian timur Pulau Bali. Pada masa kejayaannya, Kerajaan Karangasem bahkan memiliki wilayah kekuasaan hingga Pulau Lombok. Setelah ditaklukkan Belanda pada tahun 1894, kerajaan ini berada di bawah kekuasaan pemerintah Hindia Belanda. Setelah kemerdekaan Republik Indonesia.
Kerajaan Karangasem dibentuk setelah keruntuhan kerajaan Majapahit, sesudah Dewa Agung Ketut, penguasa Bali dan Lombok membagi kerajaannya menjadi beberapa kerajaan di antara 9 miliknya Kerajaan Karangasem berstatus sebagai Daerah Tingkat II Karangasem dalam pemerintahan Provinsi Bali.
– Sumber dan lengkap:  https://id.wikipedia.org/wiki/Kerajaan_Karangasem
.
Gusti Bagus Jelantik, Raja Karangasem dengan istri dan anak perempuannya tahun 1923

Daftar raja / list of kings

* 1600: Gusti Nyoman Karang (1600)
* Anglurah Ketut Karang
* Anglurah Nengah Karangasem
* 1691-1692: Anglurah Ketut Karangasem
* Anglurah Made Karang
* 1730: Gusti Wayahan Karangasem
* 1730-1775: Anglurah Made Karangasem Sakti alias Bagawan Atapa Rare
* 1775-1806: Gusti Gede Ngurah Karangasem
* 1806-1822: Gusti Gede Ngurah Lanang (periode pertama)
* 1822: Gusti Gede Ngurah Pahang
* 1822-1828: Gusti Gede Ngurah Lanang (periode ke dua)
* 1828-1838: Gusti Bagus Karang
* 1838-1849: Gusti Gede Ngurah Karangasem
* 1849-1850: Gusti Made Jungutan alias Gusti Made Karangasem
* 1850-1893: Gusti Gede Putu (sebagai penguasa bawahan)
* 1850-1890: Gusti Gede Oka (sebagai penguasa bawahan)
* 1890-1908: Gusti Gede Jelantik
* 1908-1967: Anak Agung Agung Anglurah Ketut Karangasem
* 1967-2007: Anak Agung Agung Made Jelantik (sebagai kepala keluarga besar Puri Agung Karangasem)
* 2009 – ….: Anak Agung Agung Gede Putra Agung (sebagai kepala keluarga besar Puri Agung Karangasem)

A.A. Gde Jelantik Karangasem

A.A. Gde Jelantik Karangasem

Penguasaan Lombok atas Karangasem 1849-1894

* 1849-1850: Gusti Made Jungutan (Gusti Made Karangasem) (sebagai raja vasal 1849-1850), sebelumnya adalah punggawa (pemimpin bawahan)
* 1850-1893: Gusti Gede Putu (sebagai raja vasal 1850-1893), kemenakan raja Lombok
* 1850-1890: Gusti Gede Oka (sebagai raja vasal 1850-1890), saudara Gusti Gede Putu
* 1890-1908: Gusti Gede Jelantik (wafat 1916), saudara Gusti Gede Oka
* 1908-1950: Anak Agung Agung Anglurah Ketut Karangasem (wafat 1966), anak Gusti Gede Putu

* 1950: Karangasem bergabung dengan Negara Kesatuan Republik Indonesia.

– Sumber: Wiki
– Sumber: http://purikarangasem.com/puri/article_static/genealogy_of_the_noble_house_of_karangasem


Puri (Istana) di Karangasem, ada 3 Puri Karangasem:

1) Puri Gede Karangasem.

Puri Gede Karangasem dibangun pada masa pemerintahan I Gusti Anglurah Made Karangasem pada abad ke-18. Puri pada waktu itu bernama Puri Kaleran mulai diperluas  serta diperbaiki oleh raja I Gusti Anglurah Gede Karangasem (Dewata Tohpati) pada tahun 1.800.
* Foto istana Puri Gde Karangasem: link
* Sumber: http://purigedekarangasem.blogspot.co.id/p/blog-page.html
* Puri Gede dan Puri Agung: http://tabloidbaliaga.blogspot.co.id/2011/04/puri-agung-karangasem-sebagai-pusat.html

Puri Gede Karangasem

 Puri Gede Karangasem

————————————

2) Puri Agung Karangasem

Puri Agung Karangasem pertama kali dibangun oleh Anak Agung Gede Jelantik sekitar abad ke-19, yang merupakan raja pertama dari Kerajaan Karangasem. Puri Karangasem dibangun dengan memadukan berbagai macam gaya arsitektur seperti dari Bali, China, dan Eropa.
Sumber: http://id.balibalibeach.com/sejarah/puri-agung-karangasem-istana-kerajaan-unik/
Puri Gede dan Puri Agung: http://tabloidbaliaga.blogspot.co.id/2011/04/puri-agung-karangasem-sebagai-pusat.html
Foto istana Puri Agung Karangasem: link

Puri Agung Karangasem

Puri Agung Karangasem

————————————

3) Puri Taman Ujung

Taman Ujung dibangun tahun 1909 atas prakarsa Anak Agung Anglurah. Arsiteknya adalah seorang Belanda bernama van Den Hentz dan seorang Cina bernama Loto Ang. Pembangunan ini juga melibatkan seorang undagi (arsitek adat Bali). Taman Ujung sebenarnya adalah pengembangan dari kolam Dirah yang telah dibangun tahun 1901. Pembangunan Taman Ujung selesai tahun 1921.
* Sumber: https://id.wikipedia.org/wiki/Taman_Ujung
* Foto istana Taman Sukasada: link

Puri Taman Ujung (Sukasada)

Puri Taman Ujung (Sukasada)


Puri di Bali

Puri di pulau Bali adalah nama sebutan untuk tempat tinggal bangsawan Bali, khususnya mereka yang masih merupakan keluarga dekat dari raja-raja Bali. Berdasarkan sistem pembagian triwangsa atau kasta, maka puri ditempati oleh bangsawan berwangsa ksatria.

Puri-puri di Bali dipimpin oleh seorang keturunan raja, yang umumnya dipilih oleh lembaga kekerabatan puri. Pemimpin puri yang umumnya sekaligus pemimpin lembaga kekerabatan puri, biasanya disebut sebagai Penglingsir atau Pemucuk. Para keturunan raja tersebut dapat dikenali melalui gelar yang ada pada nama mereka, misalnya Ida I Dewa Agung, I Gusti Ngurah Agung, Cokorda, Anak Agung Ngurah, Ratu Agung, Ratu Bagus dan lain-lain untuk pria; serta Ida I Dewa Agung Istri, Dewa Ayu, Cokorda Istri, Anak Agung Istri, dan lain-lain untuk wanita.

Puri Agung Karangasem

Puri Agung Karangasem Royal Palace - Royal Palace in East Bali

 

Daerah atau wilayah kekuasaan puri-puri di Bali zaman dahulu, tidak berbeda jauh dengan wilayah administratif pemerintahan kabupaten dan kota di Provinsi Bali. Setelah Kerajaan Gelgel mulai terpecah pada pertengahan abad ke-18, terdapat beberapa kerajaan, yaitu Badung (termasuk Denpasar), Mengwi, Tabanan, Gianyar, Karangasem, Klungkung, Buleleng, Bangli dan Jembrana. Persaingan antardinasti dan antaranggota dinasti pada akhirnya menyebabkan Belanda dapat menguasai Bali dengan tuntas pada awal abad ke-20.

Setelah masa kolonial Belanda, Jepang dan masa kemerdekaan Indonesia, kekuasaan puri berubah menjadi lebih bersifat simbolis. Peranan berbagai puri di Bali umumnya masih tinggi sebagai panutan terhadap berbagai pelaksanaan aktivitas adat dan ritual Agama Hindu Dharma oleh masyarakat banyak.


Sejarah singkat kerajaan-kerajaan di Bali

Kerajaan Bali merupakan istilah untuk serangkaian kerajaan Hindu-Budha yang pernah memerintah di Bali, di Kepulauan Sunda Kecil, Indonesia. Adapun kerajaan-kerajaan tersebut terbagi dalam beberapa masa sesuai dinasti yang memerintah saat itu. Dengan sejarah kerajaan asli Bali yang terbentang dari awal abad ke-10 hingga awal abad ke-20, kerajaan Bali menunjukkan budaya istana Bali yang canggih di mana unsur-unsur roh dan penghormatan leluhur dikombinasikan dengan pengaruh Hindu, yang diadopsi dari India melalui perantara Jawa kuno, berkembang, memperkaya, dan membentuk budaya Bali.

Kerajaan di Bali, sekitar tahun 1900.

Karena kedekatan dan hubungan budaya yang erat dengan pulau Jawa yang berdekatan selama periode Hindu-Budha Indonesia, sejarah Kerajaan Bali sering terjalin dan sangat dipengaruhi oleh kerajaan di Jawa, dari kerajaan Medang pada abad ke-9 sampai ke kerajaan Majapahit pada abad ke-13 hingga 15. Budaya, bahasa, seni, dan arsitektur di pulau Bali dipengaruhi oleh Jawa. Pengaruh dan kehadiran orang Jawa semakin kuat dengan jatuhnya kerajaan Majapahit pada akhir abad ke-15.
Setelah kekaisaran jatuh di bawah Kesultanan Muslim Demak, sejumlah abdi dalem Hindu, bangsawan, pendeta, dan pengrajin, menemukan tempat perlindungan di pulau Bali. Akibatnya, Bali menjadi apa yang digambarkan oleh sejarawan Ramesh Chandra Majumdar sebagai benteng terakhir budaya dan peradaban Indo-Jawa.
Kerajaan Bali pada abad-abad berikutnya memperluas pengaruhnya ke pulau-pulau tetangga. Kerajaan Gelgel Bali misalnya memperluas pengaruh mereka ke wilayah Blambangan di ujung timur Jawa, pulau tetangga Lombok, hingga bagian barat pulau Sumbawa, sementara Karangasem mendirikan kekuasaan mereka di Lombok Barat pada periode selanjutnya.

Sejak pertengahan abad ke-19, negara kolonial Hindia Belanda mulai terlibat di Bali, ketika mereka meluncurkan kampanye mereka melawan kerajaan kecil Bali satu per satu. Pada awal abad ke-20, Belanda telah menaklukkan Bali karena kerajaan-kerajaan kecil ini jatuh di bawah kendali mereka, baik dengan kekerasan atau dengan pertempuran, diikuti dengan ritual massal bunuh diri, atau menyerah dengan damai kepada Belanda. Dengan kata lain, meskipun beberapa penerus kerajaan Bali masih hidup, peristiwa-peristiwa ini mengakhiri masa kerajaan independen asli Bali, karena pemerintah daerah berubah menjadi pemerintahan kolonial Belanda, dan kemudian pemerintah Bali di dalam Republik Indonesia.


Peta kuno Bali

Klik di sini untuk peta kuno Bali 1618, 1683, 1700-an, 1750, 1800-an, 1856, abad ke-19.

 Bali abad ke-16 ?


Sumber kerajaan Karangasem

– Sejarah kerajaan Karangasem: http://sejarah-puri-pemecutan.blogspot.co.id/2011/02/sejarah-kerajaan-karangasem.html
Sejarah kerajaan Karangasemdi Wiki: https://id.wikipedia.org/wiki/Kerajaan_Karangasem
– Daftar Raja Karangasem di Wiki: https://id.wikipedia.org/wiki/Daftar_Raja_Bali#Raja-raja_Karangasem
/genealogy_of_the_noble_house_of_karangasem
.
Puri Gede Karangasem: http://purigedekarangasem.blogspot.co.id/p/blog-page.html
Puri Gede dan Puri Agung: http://tabloidbaliaga.blogspot.co.id/2011/04/puri-agung-karangasem-sebagai-pusat.html
Puri Agung Karangasem: http://id.balibalibeach.com/sejarah/puri-agung-karangasem-istana-kerajaan-unik/
Puri Taman Ujung: https://id.wikipedia.org/wiki/Taman_Ujung

Intervensi Belanda di Bali, 1846, 1848, 1849, 1906, 1908

– 1846: Perang Bali I: https://sultansinindonesieblog.wordpress.com/bali/perang-bali-i-1846/
– 1848: Perang Bali II: https://sultansinindonesieblog.wordpress.com/bali/perang-bali-ii-1848/
– 1849: Perang Bali III: https://sultansinindonesieblog.wordpress.com/bali/perang-bali-iii-1849/
– 1906: Intervensi belanda di Bali / Puputan 1906: https://sultansinindonesieblog.wordpress.com/bali/puputan-bali-1906/
– 1908: Intervensi Belanda di Bali / Puputan 1908: https://sultansinindonesieblog.wordpress.com/bali/puputan-klungkung-1908/


* Foto kerajaan / kingdom Karangasem: link
Foto istana Puri Agung Karangasem: link

* Foto istana Puri Gde Karangasem: link
* Foto istana Taman Sukasada: link


 

Leave a comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s