Kuto Kedawung Paleran, situs kerajaan Majapahit, Blambangan / Prov. Jawa Timur – kab. Jember

Kuto Kedawung terletak di Desa Paleran, Kec. Umbulsari, Kabupaten Jember, Prov. Jawa Timur.
Kuto Kedawung adalah situs peninggalan kerajaan Blambangan.

Kuto Kedawung is located in Desa Paleran, Kec. Umbulsari, Kabupaten Jember, Prov. Jawa Timur.
Kuto Kedawung is an old site of the kingdom of Blambangan.
For english, click here

Lokasi desa Paleran, kec. Umbulsari, kab. Jember


* Foto Jawa dulu, situs kuno di Jawa dan Batavia: link


Sejarah Kuto Kedawung Paleran

Tahun 1546, setelah berhasil menguasai Pasuruan, Kerajaan Demak kembali berusaha menguasai Kerajaan Blambangan, yang beribukota di Panarukan. Penyerangan yang dilakukan Demak berhasil menguasai Panarukan, ibukota Blambangan, namun dalam peristiwa itu Sultan Trenggono terbunuh. Tahun 1601, setelah Panarukan dikuasai Demak, pemerintahan Blambangan lebih memilih mundur dan memindahkan pusat pemerintahannya ke selatan, tepatnya di Kuto Dawung (Kedawung), Desa Paleran, Kecamatan Umbulsari, Kab. Jember. Di pusat pemerintahan yang baru ini, Blambangan di bawah pemerintahan dinasti baru, yakni Tawang Alun

Situs Kuto Kedawung Paleran yang menjadi bagian dari beteng keberadaan bangunan sudah tidak tampak lagi karena tertutup oleh persawahan milik penduduk. Struktur batu bata sudah dirusak oleh tangan-tangan jahil dan secara perlahan mulai raib tidak ketemu rimbanya.
Tidak mustahil bila bekas bangunan itu adalah benteng pertahanan yang melingkari “kota baru” yang dibuat dalam rangka mempertahankan diri dari serangan musuh. Ketebalan batu bata serta beberapa artefak yang berhubugan dengan kepentingan militer dan keberadaan beberapa buah sumur sebagai sarana logistik menunjukkan indikasi yang tidak bisa dipungkiri.


Observasi lokasi Kuto Kedawung oleh seorang pengunjung (2014)

Menurut penuturan Gus Lik, tokoh masyarakat setempat, Kutho Dawung berarti kutho seng wurung  atau kota yang gagal. Pendapat ini berdasarkan cerita dari mulut kemulut atau tutur tinular para leluhur penduduk asli Kutho Dawung.
Setelah berjalan tidak begitu jauh melewati pematang sawah, tiba-tiba perhatian kami tertuju pada sebongkah batu bata merah tebal yang sudah tidak utuh lagi. Tapi itu sudah cukup membuat kami penasaran untuki mencari dan terus mencari jejak rentuhan sejarah Kutho Dawung.

Tidak jauh dari penemuan pertama, kami kembali menemukan batu bata merah yang berserakan di pematang sawah dan juga di saluran air. Kami juga banyak menemukan pecahan gerabah atau keramik yang tidak lagi utuh (namanya juga pecahan) dan semakin membuat kami tertantang menggungkap misteri yang telah terkubur jauh di mesin waktu.
“Di lokasi ini memang sering ditemukan pecahan gerabah, keramik, manik-manik dan uang kepeng. Akan tetapi warga sering membuangnya kembali karena di anggap tidak menarik atau mengembalikan kembali ketempat semula karena takut kualat atau terkena sial”, tutur Gus Lik.

Kaki ini terus berjalan menelusiri pematang sawah, hingga kami putuskan untuk pindah lokasi atas saran dari Gus Mik. Dilokasi yang kedua ini kami sempat dibuat tercengang karena banyaknya batu bata merah yang tertanan menyerupai struktur meski tidak tertususun rapi.
Sampai hari ini tidak ada penelitian untuk menggali sejarah tentang Kutho Dawung. Minimnya perhatian pemerintah juga menjadi salah satu faktor yang membuat situs ini semakin tenggelam di telan waktu.
– Sumber: https://kanal3.wordpress.com/2014/10/07/menyusuri-jejak-kota-yang-hilang/


Peta kuno Jawa

Klik di sini untuk peta kuno Jawa tahun 1598, 1612, 1614, 1659, 1660, 1706, 1800-an, awal abad ke-18, 1840.

Jawa, awal abad ke-18

1234


Sumber

– Majapahit, situs Kuto Kedawung: https://www.kompasiana.com/wiwinrizakurnia.blogspot.com/napak-tilas-peninggalan-majapahit-di-situs-beteng-jember_552a1077f17e614853d623aa
Kerajaan Sadeng dan Blambangan di Kabupaten Jember: http://lontarnews.blogspot.co.id/2010/01/kerajaan-sadeng.html
– Cerita pengunjung di lokasi Kuto Kedawung: https://kanal3.wordpress.com/2014/10/07/menyusuri-jejak-kota-yang-hilang/
– Situs Beteng, warisan Majapahit: http://saptaprabhu.blogspot.co.id/2013/05/situs-beteng-warisan-majapahit-yang.html