Beutong, kerajaan / Sumatera – Prov. Aceh, Kab. Nagan Raya

Kerajaan Beutong terletak di Sumatera, Kab. Nagan Raya, prov. Aceh.
Saat kesultanan Aceh kerajaan itu merupakan vasal atau bawahan sultan Aceh dan dipimpin oleh raja yang bergelar Uleebalang.
Setelah berakhirnya Perang Aceh, tahun 1914, Beutong masuk Onderafdeling Meulaboh, sebagai “swapraja”.

The kingdom of Beutong is located in the district Nagan Raya, province of Aceh.

klik foto untuk besar

Peta lokasi Kabupaten Nagan Raya

Provinsi Aceh (hijau)

Provinsi Aceh (hijau)


* Foto wilayah Aceh: link
* Foto perang belanda di Aceh (1873-1903): link
* Foto kerajaan-kerajaan di Sumatera: link
* Foto situs kuno di Sumatera: link
* Foto Kesultanan Aceh Darussalem: link


Raja kerajaan Beutong sekarang (2017)

Nama raja ini belum diketahui.


Kerajaan Beutong – Lokasi

Bekas teritorial kerajaan Beutong terletak di Kecamatan Beutong Banggala atau populer dengan sebutan Beutong Ateuh sebagai Pusat Kerajaan dan Kecamatan Beutong (Beutong Bawah) Kabupaten Nagan Raya Provinsi Aceh. Menurut catatan sejarah wilayah Pameu Kabupaten Aceh Tengah juga merupakan bagian dari teritorial kerajaan Beutong.


Kerajaan Beutong – Sejarah

Dulu negeri tersebut diperintah oleh seorang Raja non Muslim yang berasal dari Sumatra Utara (Suku Rawa/Batak 27). Dan dengan memohon petunjuk serta perlindungan dari Allah SWT, Teuku Raja Beutong Benggalang dengan menggunakan taktik dan strategi yang tanpa melalui peperangan, berhasil membuat Raja dan para petinggi Kerajaan lari meninggalkan negeri itu.
Seterusnya Teuku Raja Beutong Benggalang mulai memimpin negeri itu dengan penuh bijaksana dan adil, Alhamdulillah dalam waktu yang singkat Allah SWT melimpahkan karunia-Nya berupa tanah yang subur dengan hasil pertanian yang berlimpah, sehingga anak negeri bisa hidup makmur dan sejahtera. Kemudian beliau memberi nama baru untuk negeri itu yaitu Beutong, yang beliau ambil dari nama salah satu negeri di Kerajaan Pedir (Kabupaten Pidie).
Setelah berakhirnya Perang Aceh, tahun 1914, Beutong masuk Onderafdeling Meulaboh, sebagai “swapraja”.
Pada zaman pendudukan Jepang (1942-1945M), Teuku Raja Beutong Banta Tjut masih di akui sebagai pemimpin Kerajaan Beutong dengan sebutan Beutong Son atau Sonco Beutong. Pada masa periode ini ada raja yang tidak lagi di akui bahkan dibunuh oleh tentara pendudukan Jepang seperti Teuku Chik Ali Akbar (Raja Meulaboh) dan Teuku Ben (Raja Seunagan).


Kerajaan Beutong – daftar raja

1) Raja pertama dan pendiri Kerajaan Beutong adalah Teuku Peusunu atau Teuku Raja Beutong Benggalang. Menurut riwayat beliau berasal dari Kerajaan Pedir (Sekarang Kabupaten Pidie) pada masa akhir Kesultanan Atjeh Darussalam di perintah oleh Sultan Alaidin Johan Syah 1147-1174H ( 1735-1760M ).
2) Raja kedua Kerajaan Beutong adalah Teuku Lundeh atau Teuku Raja Beutong Chik, yang merupakan anak kandung dari Teuku Raja Beutong Benggalang.
3) Raja ketiga Kerajaan Beutong adalah Teuku Raja Beutong Dalam, salah seorang anak kandung dari Teuku Raja Beutong Chik (Raja kedua).
4) Raja keempat Kerajaan Beutong adalah Teuku Raja Beutong Abdullah, yang merupakan anak kandung dari Teuku Raja Beutong Dalam (Raja ketiga).
5) Raja kelima Kerajaan Beutong adalah Teuku Raja Beutong Ali Nafiah, atau dikalangan masyarakat populer dengan sebutan Ampon Beutong Ali. Beliau merupakan anak kandung dari Teuku Raja Beutong Abdullah (Raja keempat).
6) Raja keenam (Terakhir) Kerajaan Beutong adalah Teuku Raja Beutong Banta Tjut dan dikalangan masyarakat terkenal dengan sebutan Ampon Beutong Banta. Beliau merupakan anak kandung dari Teuku Raja Beutong Abdullah (Raja keempat).

– Penjelasan lengkap raja Beutong: https://fsknaceh.wordpress.com/sejarah-kerajaan-di-aceh/


Kerajaan Beutong – Keraton dan Alat-alat Perlengkapan

Selaku Raja pertama dan sekaligus pendiri Kerajaan Beutong, Teuku Raja Beutong Benggalang sampai dengan Raja yang ketiga (Teuku Raja Beutong Dalam) bertempat tinggal di Beutong Ateuh/Beutong Atas (Sekarang Kecamatan Beutong Benggala), sebagai pusat Kerajaan dan Keraton/Tempat kediaman Raja Beutong yang diberi nama “Rumoeh Rayek” hanya tinggal bekasnya yang terletak di desa Kuta Tuha Kecamatan Beutong Benggala.

Sedangkan Raja keempat (Teuku Raja Beutong Abdullah) sampai dengan raja terakhir (Teuku Raja Beutong Banta Tjut) bertempat tinggal di Desa Meunasah Pante atau Beutong Bawah (sebagai pusat pemerintahan) Kecamatan Beutong Kabupaten Nagan Raya, dimana saat ini Keraton Kerajaan Tersebut dengan nama “Rumoeh Rayek” atau Rumah Besar masih ada walaupun dalam kondisi yang tidak terawat lagi.

Adapun alat-alat perlengkapan Kerajaan seperti baju adat kebesaran raja-raja, kulah kama (mahkota),  cap/stempel, pedang, siwah, rencong, alat-alat kesenian dan lain-lain sebagian kecil masih ada yang saat ini disimpan oleh anak cucu dari keturunan Raja Beutong, namun banyak yang telah hilang dalam berbagai peristiwa yang terjadi di atjeh seperti revolusi sosial pada tahun 1946.


Sejarah kerajaan-kerajaan di Aceh

Wilayah bagian barat Kerajaan Aceh Darussalam mulai dibuka dan dibangun pada abad ke-16 atas prakarsa Sultan Saidil Mukamil (Sultan Aceh yang hidup antara tahun 1588-1604), kemudian dilanjutkan oleh Sultan Iskandar Muda (Sultan Aceh yang hidup tahun 1607-1636) dengan mendatangkan orang-orang Aceh Rayeuk dan Pidie.

Daerah ramai pertama adalah di teluk Meulaboh (Pasi Karam) yang diperintah oleh seorang raja yang bergelar Teuku Keujruen Meulaboh, dan Negeri Daya (Kecamatan Jaya) yang pada akhir abad ke-15 telah berdiri sebuah kerajaan dengan rajanya adalah Sultan Salatin Alaidin Riayat Syah dengan gelar Poteu Meureuhom Daya.

Dari perkembangan selanjutnya, wilayah Aceh Barat diakhir abad ke-17 telah berkembang menjadi beberapa kerajaan kecil yang dipimpin oleh Uleebalang, yaitu : Kluang; Lamno; Kuala Lambeusoe; Kuala Daya; Kuala Unga; Babah Awe; Krueng No; Cara’ Mon; Lhok Kruet; Babah Nipah; Lageun; Lhok Geulumpang; Rameue; Lhok Rigaih; Krueng Sabee; Teunom; Panga; Woyla; Bubon; Lhok Bubon; Meulaboh; Seunagan; Tripa; Seuneu’am; Tungkop; Beutong; Pameue; Teupah (Tapah); Simeulue; Salang; Leukon; Sigulai.

– Sumber:  https://id.wikipedia.org/wiki/Kabupaten_Aceh_Barat


Struktur kerajaan-kerajaan kecil dalam kesultanan Aceh / Uleebalang

Wilayah inti kerajaan Aceh (Aceh Raya ) dibagi dalam tiga wilayah segi dan wilayah pusat kerajaan. Tiap segi terdiri dari sejumlah mukim. Berdasarkan jumlah mukim yang disatukan menjadi wilayah segi, maka ketiga segi dikerajaan Aceh disebut sagi XXV mukim, segi XXII ukim dan segi XXVI mukim.
Sagi XXV mukim meliputi daerah Aceh bagian barat, sagi XXII mukim berada daerah bagian tengah bagian selatan sedangkan segi XXVI mukim terlettak didaerah bagian timur wilayah pusat berada di daerah bagian tengah sebelah utara sampai ke pantai utara.
Tiap-tiap sagi di bagi dalam kesatuan-kesatuan wilayah lebih kecil. Tiap-tiap distrik meliputi beberapa mukim. Sebagai contoh misalanya sagi XXV terdapat distrik IV mukim, distrik VI mukim, distrik IX mukim dan lain-lainyanya.
Tiap-tiap sagi dikepali oleh kepala sagi atau yang sering disebut Hulubalang, sedang tiap distrik di kepali oleh seorang Hulubalang (Ulebalang). Pada hakekatnya Hulubalang daerah sagi mempunyai kekuasaan otonom wilayah kekuasaanya.
Raja atau sultan lebih berfungsi sebagai lambing membersatu yang diakui oleh para ulubalang. Kedudukan para pemersatu yang diakui oleh para hulubalang. Kedudukan para hulubalang diwilayah sagi tidak tergantung pada sultan. Jabatan mereka sedemian jauh dapat diwaiskan. Namun hal seperti itu tidak berlaku bagi hulubalang diwilayah pusat yang langsung dibawah kekuasaan sultan. Hulubalang-hulubalang ini diangakat oleh raja dengan surat ketetapan (sarkata) yang dibubuhi materi kerajaan (Cap halilintar).
Uleebalang, ditetapkan oleh adat secara turun-temurun. Mereka menerima kekuasaan langsung dari Sultan Aceh. Uleebalang ini merupakan penguasa nanggroe atau raja-raja kecil yang sangat berkuasa di daerah mereka masing-masing.
Para hulubalang biasanya memekai gelar tengku. Kepala-kepala distik sering disebuut datuk.
Setelah berakhirnya Perang Aceh (1914), negeri-negeri para uleebalang ini memperoleh status swapraja (zelfbestuur landschappen).  Antara lain Keureuto, dalam Onderafdeling Lhok Soekon.

– Sumber: http://wartasejarah.blogspot.co.id/2013/07/kerajaan-aceh.html


Peta Aceh dulu

klik peta untuk besar

Peta Aceh tahun 1646. Achem, from ‘Livro do Estado da India Oriental’, an account of Portuguese settlements in the East Indies, by Pedro Barreto de Resende

—————————–

Peta Aceh 1873.


Peta-peta kuno Sumatera

Untuk peta kuno Sumatera (1565, 1588, 1598, 1601, 1616, 1620, 1707, 1725, 1760), klik di sini

Sumatera, tahun 1707


Sumber

Tentang kerajaan Beutong: https://fsknaceh.wordpress.com/sejarah-kerajaan-di-aceh/
– Tentang uleebalang: https://id.wikipedia.org/wiki/Ul%C3%A8%C3%ABbalang


 

 

Advertisements
Leave a comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Create a free website or blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: