Tamiang, kerajaan / Sumatera – prov. Aceh

Kerajaan Tamiang terletak di Sumatera, prov. Aceh. Kerajaan ini dipecat menjadi dua kerajaan: kerajaan Karang dan kerajaan Benua Tunu.

Lokasi prov. Aceh


* Foto foto situs kuno dan suku-suku di Sumatera dan Sumatera dulu: link


Sejarah kerajaan Tamiang

Pada sekitar tahun 960 penguasa di Tamiang adalah Tan Ganda yang berkedudukan di Bandar Serangjaya. Serangan Raja chola ke Tamiang menyebab kan Tan Ganda tewas anaknya yang bernama Tan Penuh Diangkat sebagai penganti nya dan memindahkan pusat pemerintahan ke Bandar Bukit Karang di daerah Sungai Simpang Kanan.

Sejak itulah berdiri Kerajaan Bukit Karang dengan urutan penguasanya adalah Tan Penuh, Tan Kelat, Tan Indah,Tan Banda,dan Tan Penok.
Sepeninggal Tan Penok, kekuasaan diganti oleh anak angkatnya yang bernama Pucook Sulooh.bertahta sekitar tahun 1190–1256. Pengganti selanjutnya adalah Po Pala, Po Dewangsa, dan Po Dinok.
Pada akhir masa pemerintahan Po Dinok, penguasa Samudera Pasai yang bernama Sultan Ahmad Bahian Syah bin Muhammad Malikul Tahir (1326–1349) mengirim pendakwah ke Tamiang.dalam sebuah Pertempuran mengakibatkan kematian Po Dinok.
Sultan Ahmad Bahian Syah menunjuk Raja Muda Sedia untuk memimpin dan meletakkan dasar kerajaan Islam Benua Tamiang, yang berpusat di sekitar kota Kualasimpang.

Tamiang pernah mencapai puncak kejayaan di bawah pimpinan Raja Muda Sedia yang memerintah pada tahun 1330–1366 (pendapat lain mengatakan 1330–1352).

Kilas sejarah, sistem pemerintahan Tamiang telah tersusun dengan sangat rapi di masa pemerintahan Raja Muda Sedia (1330- 1352). Selain berhasil dalam menjalankan roda pemerintahan, Raja Muda Sedia pernah memukul mundur serangan pertama yang dilakukan oleh Kerajaan Majapahit yang di pimpin oleh Patih Gajah Mada di Kuala Tamiang.

Tanpa diketahui oleh Raja Muda Sedia, prajurit Majapahit melakukan penyeranggan kembali terjadi peperangan yang sangat dahsyat di bukit Suling, kota Benua di Bumi hanguskan oleh prajurit-prajurit Majapahit. Raja Muda Sedia terpaksa mundur ke daerah Hulu Sungai Simpang Kiri dan menghilang dalam pertapaanya di Gunung Segama. Sedangkan permaisurinya yang kala itu dalam keadaan Hamil tua, kembali ke Negeri Asalnya (Aceh).

Beberapa tahun kemudian, pemerintahan Kerajaan Tamiang terlahir kembali di pimpin oleh Mangkubumi yang berpusat di Kuala Simpang Negeri Pagar Alam. Setelah itu terjadi pergantian tahta, Raja Po Lamat, Raja Po Kelabu tunggal, Raja Po Garang, Raja Kandis.

Setelah Raja Kandis mangkat, posisi beliau di gantikan oleh menantunya Raja Pendekar Sri Mangkuta dalam masa pemerintahanya pusat kerajaan di pindahkan ke Pantai Tinjau (1523 – 1558). Pada awal pemerintahannya beliau pernah melakukan kunjungan ke Kerajaan Aceh yang pada kala itu di pimpin oleh Sultan Muqayat Shah (1511–1530) dan pada saat kunjungan itu pula lah, Sri Sultan memberi pengakuan atas Kerajaan TAMIANG.

Pada masa pemerintahannya, Kerajaan Tamiang di pecah menjadi dua kerajaan kerajaan kecil yaitu:
kerajaan Karang (Tamiang) dan
kerajaan Benua Tunu.
Dua kerajaan ini masing-masing di pimpin oleh anak keturunan Raja Muda Sedia dan Muda Sedinu. Benua Tunu di bangun di atas Puing-puing Kota Benua Raja, yang dipimpin oleh Raja Gempa Alamsyah (1558–1588) dan Negeri Karang di pimpin oleh Raja Fromsyah (1588–1590) berpusat di Negeri Menanggini. Kedua kerajaan kecil ini tunduk kepada kerajaan Tamiang di Pantai Tinjau (Raja Pendekar Sri Mangkuta).

Setelah Raja Sri mangkuta wafat, di masa pemerintahan Raja Penita (1699–1700) turunan dari Raja Gempa Alamsyah yang memerintah Benua Tunu dan Raja Tan Kuala (1662–1699) turunan dari Raja Fromsyah memerintah Negeri Karang, untuk menghindari terjadinya Silang pendapat dan mencegah agar tidak terjadi perang saudara karena memperebutkan kekuasaan kerajaan Tamiang, maka kedua Raja Bersaudara itupun bersepakat (Benua Tunu dan Negeri Karang) bersama–sama,  memohon kepada Sultan Taj Alam Syaifuddin Mukayatsyah (1641–1676). Dan pada masa pemerintahan Ratu Kemalat Syah (1688–1699) Kerajaan Benua Tunu dan Negeri Karang di Syahkan menjadi suatu Kerajaan yang berdaulat penuh dan mendapat Cap Sikureung dari sultan Aceh.

Seiring perjalanan waktu dari dua kerajaan kecil dahulu, terlahir pula kerajaan-kerajaan baru yaitu Negeri Bendahara di bawah pemerintahan Potjcut Achmad Gelar Raja Bendahara I (1883–1871) yang juga mendapatkan Cap Sikureung dari sultan Aceh.

Teungku raja mangkubumi raja pemangku kerajaan Tamiang bersama Teuku Raja Ismail Athashi Raja Sungai Iyu beserta pembesar kerajaan tahun 1920 di Langsa


Sumber

– Sejarah kerajaan Tamiang: https://www.facebook.com/groups/gallery.atjeh/permalink/1228632594003712/
– Sejarah kerajaan Tamiang: http://visitacehdarussalam.blogspot.com/2012/11/kerajaan-kerajaan-di-tamiang.html
– Sejarah kerajaan Tamiang: http://acehdalamsejarah.blogspot.com/2009/10/sejarah-kerajaan-tamiang.html