Sejarah lengkap kerajaan Portibi

Sumber: Oleh Julkifli Marbun
http://humbahas.blogspot.nl/2006/12/kerajaan-portibi-forgotten-kingdom.html

Kerajaan Portibi di tanah Batak merupakan kerajaan kuno yang sangat unik. Keunikannya terletak di berbagai segi. Keunikan itu misalnya dalam defenisi nama kerajaan tersebut; Portibi. Portibi dalam bahasa Batak artinya dunia atau bumi. Jadi bila kita artikan Kerajaan Portibi secara leterleks maka berarti kerajaan dunia.

Portibi adalah nama sebuah daerah yang menjadi nama sebuah kecamatan di Daerah Tingkat II Kabupaten Tapanuli Selatan. Berada di jantung wilayah Padang Lawas. Dulunya merupakan bagian dari wilayah Padang Bolak.

Sebegitu hebatkah kerajaan ini dahulu sehingga disebut sebagai kerajaan dunia. Atau apakah kerajaan ini dulunya merupakan pusat dunia, misalnya dalam bidang tertentu seperti Tibet, yang menjadi pusat meditasi Buddha yang terletak di pegunungan Himalaya tersebut.

Keunikan kedua adalah bahwa nama Portibi merupakan sebuah kata dalam bahasa Batak yang akarnya tidak diragukan lagi berasal dari bahasa sansekerta atawa Hindu. Portibi merupakan pelafalan Batak atas kata Pertiwi atau di India dikenal dengan nama Pritvi. Nama Pritvi ini sekarang dipakai menjadi nama sebuah rudal India. Dalam sejaran Hindu dikenal juga Dinasti Pertiwi yang dikenal dengan nama Pritvi Raj. Diduga, intrusi orang-orang Hindu secara organisasi kemiliteran terjadi hanya di daerah ini di tanah Batak.

Untuk diketahui bahwa hubungan budaya dan ekonomi antara Batak dan India sudah berlangsung sejak dahulu kala. Namun itu lebih kepada hubungan person to person. Orang-orang India tidak datang bersama pasukan militer atau sebagai penjajah sebagaimana datangnya orang Eropa paska abad pertengahan.

Namun, satu-satunya kontak, atau paling tidak daerah jajahan atawa vassal kerajaan yang pernah dibuat orang Hindu secara langsung adalah di sekitar kerajaan Portibi ini. Kerajaan Hindu tersebut diduga didirikan oleh Raja Rajendra Cola yang menjadi raja Tamil, yang Hindu Siwa, di India Selatan yang menjajah Sri Langka.

Argumentasi mengenai kedatangan orang Hindu tersebut diduga berdasarkan kepentingan ekonomi dalam perebutan sumber emas yang menjadi komoditas berharga saat itu. Kerajaan Portibi yang sekarang itu, terletak di tanah Batak Selatan yang sangat dikenal sejak zaman kuno sebagai tanah emas karena di wilayah ini sangat mudah didapati emas dengan hanya menyiramkan air ke tanahnya.

Orang-orang Hindu tersebut mendarat melalu pelabuhan Natal yang sejak zaman kuno sudah disinggahi oleh Bangsa Phonesia (Funisia), sebelum zaman Romawi dan Yunani untuk membeli produk-produk emas. Di zaman tersebut tanah Batak Selatan melalui pintu pelabuhan Natalnya dikenal dengan istilah “Ophir El Dorado”.

Berbeda dengan Barus yang menjadi pintu masuk ke Tanah Batak dari sisi Barat yang lebih dikenal dengan produk al-Kafur al-Fansuri nya yang banyak disinggahi oleh pembeli dari berbagai penjuru dunia. Produk tersebut bahkan mendapat minat yang sangat tinggi pada era dan oleh King Solomon alias Nabi Sulayman, saat dia ingin memikat hati Ratu Balqis.

Barus dan Natal merupakan daerah yang sangat diminati untuk didatangi dengan produk-produk langkanya yang terdapat dalam jumlah yang besar. Bahkan tanah Batak sangat dikenal juga sebagai tanah yang paling disukai oleh ‘tuhan’ karena hanya di inilah tumbuh sebuah pohon yang sangat disukainya dan dipakai untuk berkomunikasi dengan ‘tuhan’ tersebut oleh pemujanya; yakni kemenyan yang bermutu tinggi.

Tidak diketahui secara pasti apakah Rajendra Cola bermaksud mendirikan kuil nya di tanah Batak ini karena posisinya sebagai ‘ pusat tanah tuhan’ atau bukan. Namun sejauh buku sejarah menduga bahwa argumentasi yang paling logis adalah untuk menguasai arus perdagangan dengan menjajah sumber utamanya.

Ekspedisi pasukan Rajendra Cola dimulai lebih kurang tahun 1100M atau ada yang bilang tahun 1025M, dengan menyisir pantai Natal, terus masuk ke daerah-daerah sekitar sungai Barumun, Padang Lawas yang sekarang dikenal dengan Portibi dan beberapa wilayah di sekitar Sungai Batang Angkola di Angkola setelah menguasai Sri Langka.

Di sekitar daerah tersebut mereka mendirikan kerajaannya dimana sebelumnya telah eksis masyarakat tambang Batak dengan pendatang dari berbagai penjuru dunia terutama dari masyarakat Hindu. Mereka mendirikan koloni lengkap dengan Candi yang sekarang dikenal dengan Biara Sipamutung, sebuah Hindu Temple Complex yang diperkirakan jauh lebih besar dari komplek candi hindu Prambanan di Pulau Jawa.

Pendirian kerajaan tersebut yang lengkap dengan sistem pemerintahannya sendiri semakin mengundang banyak penambang emas dari India untuk bermukim dan menjadi penambang.

Sampai sekarang di daerah Portibi, masih terdapat Candi Bahal I, III dan III. Masih di daerah yang dinamakan Bahal tersebut terdapat sebuah candi terletak di pinggir sungai Batang Pane, sekitar 300 meter dari candi Bahal I. Candi-candi juga terdapat pada desa Bara, Aloban, Rondaman Lombang, Saba Sitahul-tahul dan lain sebagainya. (Lihat: Djamaluddin Siregar, Pertentangan Kaum Adat dan Agama di Kecamatan Portibi dan Kontribusi Pesantren dalam Mencari Solusi, Thesis di Program Paska Sarjana IAIN Sumatera Utara, 2005, hal. 14).

Terdapat juga bendungan kuno raksasa yang terdapat di desa Aloban (rura Sitobu). Bendungan ini berukuran panjang hempangan sekitar 150 meter, lebar di bawah sekitar 15 m, sedang di atasnya masih tersisa sekitar 7 meter. Berhubungan dengan bendungan tersebut terdapat juga bendungan ukuran sedang di Sihaborgoan. Kedua bendungan tersebut tidak lagi diketahui oleh masyarakat sejarahnya karena diperkirakan seumur dengan candi-candi tersebut. Diduga bendungan yang dibangun masyarakat tambang Batak tersebut dihancurkan oleh Rajendra Cola saat akan menjajah wilayah tersebut. Perusakan tersebut ditujukan untuk memonopoli sistem pertambangan.

Diduga masyarakat tambang Batak dengan penambang imigran khususnya dari India telah membuka daerah tambang di berbagai wilayah sekitar Portibi seperti, Gunung Tua, Batang Onan, Pijorkoling dan lain sebagainya.

Semua bekas peninggalan tambang kuno tersebut, menjadi ‘kampung hantu’ yang terabaikan sekarang ini.

Lalu mengapa Kerajaan Rajendra Cola tersebut menghilang begitu saja. Bagaimana ceritanya?.

Sebenarnya ada dua kemungkinan dari informasi di atas.

Pertama, Kerajaan Portibi telah lama eksis di Daerah tersebut yang menjadi Kerajaan Batak dari marga Siregar dan Harahap. Namun ekspedisi Rajendra Cola ke Sumatera telah menjajah daerah tersebut untuk memonopoli emas. Namun kekuatan pribumi Portibi berhasil mengusir eksistensi Kerajaan Rajendra Cola tersebut yang dikenal banyak orang dengan Kerajaan Aru Sipamutung dan mengembalikan kedaulatan Batak atas kerajaan tersebut sampai sekarang.

Hipotesa kedua adalah Rajendra Cola datang hanya untuk menyerang Sumatera dan tidak sempat membangun pemerintahannya di daerah Batak. Sehingga eksistensi mereka hanya temporer dan tidak sempat mendirikan kerajaan baru yang permanen.

Peristiwa penyerangan tersebut disebutkan dalam transkrip Tanjore dari Bangsa Tamil dalam pemerintahan Rajendra Cola, dimana nama “Ilamuridesam yang sangat murka terlibat dalam perang” disebutkan menyerang beberapa wilayah di Sumatera sebagai daerah target-target penggempuran mereka pada tahun 1025. (K. A. Nilakanta Sastri, History of Srivijaya (Madras: University of Madras, 1949), pp. 80, 81).

Diduga kuat Rajendra Cola mengamuk karena perilaku Kerajaan Sriwijaya yang mewajibkan setiap pedagang yang melewati selat Malaka harus membayar pajak yang cukup tinggi. Sehingga, hal tersebut memaksa Rajendra Cola untuk mengirim ekspedisi militer menghancurkan Sriwijaya yang berimbas kepada penyerangan sumber-sumber tambang dan industri di kerajaan-kerajaan Batak.

Terlepas dari cerita sejarah tersebut, Kerajaan Portibi telah menambah perbendaharaan peradaban Batak sebagai sebuah kerajaan marga Siregar dan Harahap yang menjadi daerah kaya akibat sumber tambang alam yang sangat kaya raya. Penemuan bendungan raksasan yang dihancurkan oleh Rajendra Cola tersebut, telah memperkaya sejarah arsitektur bangsa Batak.

Heroisme bangsa Batak dalam menghadapi gempuran penjajah Rajendra Cola masih terdapaat dalam turi-turian rakyat di Kerajaan Portibi. Turi-turian tersebut mengisahkan sekilas mengenai semangat patriotisme Batak dipimpin oleh Tongku Malim Lemleman dan Ompu Jalak Maribu kontra pasukan marinir Rajendra Cola. Diduga saat itu sebagain besar masyarakat Portibi telah mengenal Islam sebelum abad ke-10 M, kata Malim sendiri merupakan istilah kuno paska kedatangan Islam yang mengacu kepada tetua adat atau yang mengerti adat dan ajaran agama. Sisingamangaraja XII juga dikenal dengan gelarnya Malim Bosar.

Orang-orang Islam Portibi, yang telah memeluk Islam sejak sebelum abad ke-10 tersebut, bersama sebagain kecil masyarakat yang masih dipengaruhi teologi Batak Hindu, menyatu menjadi golongan adat yang kemudian berhadapan dengan golongan Batak puritan dalam perang Padri di abad ke-19 M.

Dikatakan armada laut Rajendra Cola mendarat di Situngir-tungir, suatu tempat di Sungai Batang Pane (Sungai Barumun), dekat dengan desa Sibatu Loting dan Bahal. Namun satu hal yang sangat disayangkan belum ada penelitian lebih lanjut mengenai pembahasan turi-turian ini baik dari departemen pendidikan, kebudayaan maupun otoritas terkait lainnya.

Menurut Jamaluddin Siregar, akibat dari kontak kultural antara masyarakat Batak dan Hindu ini terciptalah budaya dan adat Batak yang mempunyai spesifikasi dan karakteristik yang berbeda dengan budaya Batak umumnya. Dia beranggapan bahwa adat dan Budaya masyarakat di Kerajaan Portibi sebegitu uniknya sehingga menjadi kesatuan budaya dan adat yang berdiri sendiri atau paling tidak menjadi sebuah suk-kultur yang tipikal. Sampai sekarang, masyarakat Portibi merupakan masyarakat di tanah Batak yang paling memuliakan dan mempraktekkan hampir semua ajaran yang termaktub di Pustaha Tumbaga Holing. Beda dengan masyarakat Batak lainnya yang telah memodifikasinya sesuai dengan tuntutan zaman dan daerahnya. Tumbaga Holing sendiri disinyalir berasal dari kata tumbaga yakni tembaga dan holing yang berarti keling. Keling adalah panggilan kuno untuk orang India. Seperti istilah Coromandel yang berarti “keling country”

Hal itu dikuatkan dengan penemuan prasasti Batak Purba (kuno) yang sudah diterjemahkan oleh Dr. Goris, Direktur Museum Bali pada tahun 1978, yang bertarikhs 1253. (Lihat: Harahap, Horja Adat Istiadat Dalihan Natolu, (Jakarta: Parsadaan Marga Harahap Dohot anak Boruna, 1993) h. 11.)

Berbeda dengan kerajaan-kerajaan Batak kuno lainnya, Kerajaan Portibi merupakan kerajaan yang sudah maju dengan sistem bendungan, irigasi dan persawahan selain tambang emas. Kerajaan ini telah dilengkapi dengan sistem pertahanan yang kuat dengan benteng-benteng yang terbuat dari batu berukit. tidak seperti di tempat lain di tanah Batak yang hanya terbuat dari batu gunung yang belum diolah.

Diduga, kerajaan Portibi sangat erat kaitannya, atau paling tidak, merupakan sekutu dan aliansi kerajaan Batak lainnya, yakni Kerajaan Pane yang sangat masyhur di dunia Cina dan Arab kuno sebagai pintu masuk ke Sumatera dari arah Timur. Pelabuhan Kerajaan Pane, di sekitar wilayah Tanjung Balai sekarang, merupakan alternarif untuk mendapatkan kapur barus, kemenyan dan emas dari pedalam Sumatera yang dibawa dari daerah pedalaman dan pantai Barat melalui darat ke pantai Timur.
.


Advertisements

Blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: