Lareh, wilayah pemerintahan / prov. Sumatera Barat – wilayah Minangkabau

Lareh adalah suatu wilayah pemerintahan era tanam paksa Hindia Belanda setingkat kadipaten atau kabupaten sekarang ini yang dibentuk oleh pemerintah kolonial Hindia Belanda di Minangkabau atau Sumatra Barat sekarang.
Lareh biasa disebut juga kelarasan. Sebuah wilayah lareh dikepalai oleh Angku Lareh (Tuanku Laras) atau Kapalo Lareh (Kepala Laras).

Peta yang menunjukan wilayah penganut kebudayaan Minangkabau di pulau Sumatera.


Tentang Lareh, biasa disebut juga kelarasan

Dalam etnis Minangkabau terdapat banyak klan, yang oleh orang Minang sendiri hanya disebut dengan istilah suku. Beberapa suku besar mereka adalah suku Piliang, Bodi Caniago, Tanjuang, Koto, Sikumbang, Malayu, Jambak; selain terdapat pula suku pecahan dari suku-suku utama tersebut. Kadang beberapa keluarga dari suku yang sama, tinggal dalam suatu rumah yang disebut Rumah Gadang.
Di masa awal terbentuknya budaya Minangkabau, hanya ada empat suku dari dua lareh (laras) atau kelarasan . Suku-suku tersebut adalah:
• Suku Koto
• Suku Piliang
• Suku Bodi
• Suku Caniago

Dan dua kelarasan itu adalah:
1. Lareh Koto Piliang yang digagas oleh Datuk Ketumanggungan
2. Lareh Bodi Caniago, digagas oleh Datuk Perpatih Nan Sebatang.

Perbedaan antara dua kelarasan itu adalah:
• Lareh Koto Piliang menganut sistem budaya Aristokrasi Militeristik,
• Lareh Bodi Caniago menganut sistem budaya Demokrasi Sosialis.
Dalam masa selanjutnya, munculah satu kelarasan baru bernama Lareh Nan Panjang, diprakarsai oleh Datuk Sakalok Dunia nan Bamego-mego.

Tiga Lareh dalam Minangkabau:

  1. Lareh Koto Piliang, menganut sistem budaya aristokrasi militeristik yang digagas oleh Datuk Ketumanggungan. Kelarasan ini banyak dipakai di Tanah Datar, sebagian daerah Solok dan daerah-daerah rantau Minangkabau.
  2. Lareh Bodi Caniago atau dikenal sebagai Adat Perpatih di Negeri Sembilan, Malaysia, menganut sistem budaya demokrasi sosialis digagas oleh Datuk Perpatih Nan Sebatang. Kelarasan ini banyak dipakai di Kabupaten Lima Puluh Kota, Riau dan Negeri Sembilan, Malaysia.
  3. Lareh Nan Panjang yang digagas oleh adik laki-laki dari kedua tokoh di atas yang bergelar Datuk Sakelap Dunia Nan Banago-nago, yang melarang pernikahan orang Minang dalam satu nagari. Kelarasan ini banyak dipakai oleh Agam dan Padang Panjang.

Lima (5) perbedaan Lareh Koto Piliang dan Lareh Bodi Caniago

Untuk 5 perbedaan, klik di sini


Sumber

– Tentang Lareh: https://id.wikipedia.org/wiki/Lareh
– Tentang Lareh: http://roezyhamdani.blogspot.com/2009/08/suku-minangkabau.html
– Tentang Lareh: https://blogminangkabau.wordpress.com/2009/01/04/sistim-kemasayarakatan-dan-kelarasan-di-minangkabu/
– Tentang Lareh:
https://bundokanduang.wordpress.com/2007/10/31/go-international-for-minangs-restaurant/