Aceh / Mukim

——————————————————————————————————————-
Mukim (Aceh) adalah sebuah tingkatan dalam pembagian daerah berdasarkan kekuasaan feodal Uleebalang. Sistem ini diterapkan pada zaman Kesultanan Aceh.

Mukim terbentuk dari minimal empat gampong. Setiap mukim dipimpin oleh seorang Uleebalang atau seorang Imuem. Beberapa mukim membentuk suatu “Nanggroe” yang dipimpin oleh Uleebalang.
Dalam bekas Kesultanan Aceh, di Aceh Besar sekitarnya, dibentuklah federasi mukim yang disebut Sagoe Mukim atau Sagi Mukim. Federasi ini disebut juga dengan Aceh Lhèè Sagoë.
Mukim Sagoe dipimpin oleh seorang Panglima Sagoe atau Panglima Sagi.

Ketiga Sagoe Mukim itu adalah :
1. Sagi XXV Mukim, dibentuk dari 25 Mukim.
2. Sagi XXVI Mukim, dibentuk dari 26 Mukim.
3. Sagi XXII Mukim, dibentuk dari 22 Mukim.

Sagi XXV Mukim dan Sagi XXVI Mukim daerahnya dipisahkan oleh Krueng Aceh. Sagi XXV Mukim di kiri dan berpusat di mesjid Indrapurwa Pancu.
Sagi XXVI Mukim dikanan dan berpusat di mesjid Ladong. Sagi XXII Mukim menguasai daerah di bagian selatan dan berpusat di mesjid Indrapuri.

Sumber: Wiki
————————————————————————————————————

Blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: