Sejarah lengkap kerajaan Selayar

Sumber dan di ambil dari: https://www.facebook.com/groups/sejarahsulawesi/permalink/2956999517649360/

——————————————–

Asal usul masyarakat Selayar memang selalu menarik dipedebatkan. Pulau ini menyimpan suatu potensi hasil pertanian yakni komoditi berupa kelapa yang pada gilirannya mendorong Christian Heersink mengukuhkan Selayar sebagai Negeri Emas Hijau atau Center of Coconut Island.

Selayar baik sebagai nama sub-etnis Makassar maupun sebutan untuk spasial bernama kabupaten, tampaknya belum terlalu akrab di telinga semua orang. Bahkan dalam historiografi Indonesia, Selayar pun tampaknya belum mendapat tempat yang “layak” dan memadai serta masih kurang dilirik sebagai obyek kajian ilmiah. Dalam kekosongan ruang-ruang ilmiah tertentu menyangkut Selayar inilah, menjadi salah satu alasan fundamental kehadiran karya tulis ini.

Pulau Selayar dalam Silsilla kerajaan Tallo disebutkan bahwa pada tahun 1235 – 1275 M. Raja Tallo I MakkadaE Daeng Manrangka Karaeng Mangkasara Somba Tallo I, pergi ke negeri Tiongkok (Cina) untuk menghadiri pertandingan ketangkasan dan disanalah menikah dengan Istri keduanya berkebangsaan Tiongkok bernama Nio Tek Eng bin Sie Djin Kui. Dalam perjalanan pulang ke Tallo, Raja Tallo Singgah di Bontobangun Selayar untuk menghindari cuaca buruk di lautan dan tinggal Kampung Bonto Bangun Selayar di kampong inilah istri keduannya tinggal dan melahirkan tiga putra-putri yaitu Sin Seng (Laki-laki), Tian Lay (Laki-Laki), dan Shui Lie (Perempuan), ketiga orang inilah yang menjadi cikal bakal kebaradaan orang cina di selayar.

Pada Pertengahan abad ke 12, Pulau Selayar disebut dalam naskah I La Galigo sebagai “Silaja”. Suatu fakta yang menarik yang didapati pada masyarakat kepulauan tersebut, bahwa mereka menyebut bangsawannya dengan : OPU, sebagaimana halnya di Luwu. Jadi mereka sesungguhnya adalah para turunan dari We Tenri Balobo dan We Tenri Dio Batari Bissu Punna LipuE ri Mallimongeng Datu ri Silaja. puteri Sawerigading dengan We Cudai’.

Berikut silsillahnya:
I lapuangngE LEbba PatotoE Aji Palallo Lapatiganna Sangkuruwira Batara Unru To Malangkana Ri LettE WEro beristrikan dengan : Datu Palinge Mutia Unrui Senrijawa Denru Ulawenna Guru Selleng, melahirkan Putra : Latongenglangi Batara Guru Sunge Risompa Aji Sangkuru Wira ManurungngE Ri Tellangpulaweng Raja Luwu I.

Kemudian Latongenglangi Batara Guru Sunge Risompa Aji Sangkuru Wira ManurungngE Ri Tellangpulaweng Raja Luwu I menikah dengan We Nyilli’ Timo (Putri dari Guruselleng I LapuangngE Ri Toddang Toja Mangkau Ri Pertiwi Tuppu BatuE Ri Toddassalo MaddeppaE Ri Wajampajang Opu Samuda PunnaE Liung dari Istrinya Sinauttoja MassaobessiE MaddeppaE Ri Wajampajang TunruangngE Ri Matasalo DEnru Ulawenna PatotoE). Dari pernikahan tersebut melahirkan putra bernama Sawerigading.

Sawerigading menikah dengan: Wecuddai (Putri dari La Settungpugi Bin La Tenri Angke’ ManurungngE Ri Tellangpulaweng Raja Cina Pammana / Wajo I). Dari pernikahan tersebut melahirkan tiga putri : 1. Patyanjala (Istri Salinrunglagi Simpurusiang Mutiakawa Opunna Ware ManurungngE Ri Awo Lagading Raja Luwu III). 2. We Matengga Empo Manurung-ngE Ri Toro. (Istri La MatasilompoE ManurungngE Ri Matajang Raja Bone I). 3. We Tenri Balobo Belo Kalempi Sulo Jajareng Punna LipuE ri Sabangloang (isteri La Tenripale’ Opu Lamuru Totappu Bello AlawErunEng Mutia Pajung) 4. We Tenri Dio Batari Bissu Punna LipuE ri Mallimongeng Datu ri Silaja.

Pengaruh Melayu juga dapat dijumpai pada Catatan sejarah ketika orang Portugis mengunjungi pelabuhan Siang, mereka mendapatkan penjelasan bahwa pedagang-pedagang muslim dari Patani, Pahang dan Ujung Tanah telah tinggal di Selayar sejak Tahun 1480. Kedatangan para ahli Melayu ini, selain berdagang secara tidak langsung mereka juga ikut menyebarkan agama Islam di Selayar.

Selayar berada naungan kerajaan Buton diawali dengan pengangkatan Lakilaponto menjadi Raja Ke-6 Buton pada tahun dan Opu Manjawari raja selayar menjadi Sapati (patih) di kerajaan Buton (1491-1527) dan inlah yang dapat menjelaskan bahwa kerajaan Selayar di Bawa naungan Kerajaan Buton.

Pada tahun 1570-1584 Kerjaan Selayar berada dalam kekuasaan Kerajaan Ternate, Beberapa Sumber menyebut bahwa Labolontio adalah seorang Bajak Laut yang menguasai kepulauan Moro di Filipina, perairan banda sampai selayar. Namun dalam manuskrip Buton, tercatat bahwa labolontio adalah seorang kapten laut dari kepulauan Tobelo Kesultanan Ternate. La bolontio memimpin pasukan laut dibawah perintah Sultan Ternate ke-4 Sultan Baabullah Datu Sah (1570-1584), untuk memperluas wilayah kekuasaannya juga dalam rangka menyebarkan pengaruh Islam di kawasan timur Nusantara termasuk Buton, Bima, Selayar dan Makassar yang pada saat itu kebanyakan Kerajaan masih beragamakan Hindu.

pada tahun 1580 Sultan Ternate Baabullah berkunjung ke Sombaopu Ibukota Kerajaan Gowa. Kedua Raja itu mengadakan perjanjian perseketuan (Bondgenooschap). Dari perjanjian itu, Sultan Ternate menyerahkan kembali Pulau Selayar ke Gowa yang pernah dikuasainya.

Masa Kekuasaan Gowa

Pada masa Raja Tunipallangga Ulaweng Raja Gowa ke X hingga Raja Sultan Alauddin Raja Gowa XIV memperluas wilayahnya dari Suppa hingga Selayar. La Gojeng Patta Gintung menjadi Raja Selayar pada saat Selayar menjadi Wilayah kekuasaan Kerajaan Gowa. Keberadaan La Gojeng Patta Gintung di Selayar didahului dengan Penaklukan Kerajaan Suppa dan Sawitto oleh Raja Tunipallangga Ulaweng Raja Gowa ke X mengalahkan We Lampe Welua Ratu Suppa ke V, maka Raja Tunipallangga Ulaweng melantik anaknya Tosappai menjadi Ratu Suppa ke VI, kemudian La Patiroi Raja Sidengreng ke VI menikahi We Tosappai Ratu Suppa ke VI dan melahirkan We Yabeng Ratu Sidengreng ke VII. Lapatiroi Kawin lagi dengan anaknya saudara Raja Gowa x(I Tadjibarani DaEng Marompa Tunibatta Raja Gowa XI) melahirkan La Gojeng, La Gojeng inilah yang ikut ke Gowa dalam rangka perluasan wilayah kerajaan Gowa hingga ke Selayar kemudian diberi gelar Patta Gintung, sehingga nama lengkap beliau adalah La Gojeng Patta Gintung dan berikut silsillahnya :

Gojeng Patta Gentung memperistri Sarialang Daeng Baji melahirkan Putra yaitu: Sangkala Daeng Mattola

Sangkala Daeng Mattola memperistri Saramina Daeng Baji melahirkan Putra: Gojeng Daeng Sipattang

Gojeng Daeng Sipattang memperistrikan Mariama Daeng Tonji melahirkan Putra : Limakung Daeng Majjannang.

Limakung Daeng Majjannang memperistrikan Maridaeng melahirkan :

Jahabang Daeng Siratang (Putra) beristrikan Maibah Daeng Memang
Mustari (Putra)
Lepu (Putra)
Saripa Daeng Tonji (Putri),

Jahabang Daeng Siratang menikah dengan Maibah Daeng Memang melahirkan lima Putri :

Rifa Dg Nibae
Mahbuba
Marialang
Yaking
Mahakung

Ripa Daeng Nibae bersuamikan Jeko Daeng Manumpa Gallarang Malolo kemudian bergelar Gallarang ke 2 dan melahirkan Putra dan Putri diantaranya
Rampe Daeng Rapanna,
Ma’uji,
Halifa,
Kamu’,
Syarifa,
Karama’ Daeng Managgala

Rampe Daeng Makanna Kawin dengan Baso Onto Daeng Mangasi melahirkan:
Marimang Daeng Memang,
Siti Kesuma Daeng Kanang,
Daeng Talarra,
Jaluddin Daeng Mattola

Siti Kesuma Daeng Kanang kawin / bersuamikan Densu Daeng Makkulin

Keterangan lain diceritakan bahwa sekitar akhir abad ke 17, Opu Daeng Mamangun bersama kakaknya berencana berlayar ke Bonea menghadiri pelantikan Raja Silaja, karena sang kakak telah terpilih menjadi Raja Silaja. Setelah cuaca memungkinkan berkatalan Opu Daeng Mamangun kepada sang kakak, “ayo kita persiapkan perlengkapan keberangkatan ke Bonea, dan yang paling diperlukan adalah air bersih sebagai bekal diperjalanan”. Dan sang Kakak menyahut dan membawa semua orang Pengawalnya mengambil air untuk di naikkan ke Kapal.

Sementara Sang Kakak bersama pengawalnya menuju ke sumber air, kemudian Opu Daeng Mamamangun segera memasang layar dan berangkat ke Bonea dan setibanya di Bonea beliaulah yang langsung dilantik dewan adat menjadi raja Silaja.

Sang Kakak menyusul dan setibanya di Bonea di dapatinya pesta pelatikan sudah usai dan beliau berbalik haluan menuju ke timur sekitar Gattarang dan Ciloka. Dan disanalah belau bersumpah bahwa orang ciloka bisa kawin apabila dia membawa tulang tikus kesini (artinya boleh kawin kalau ia dapat menembus blockade yang dibuanya karena selubang tikuspun sudah ditutup).

Selama pemerintahannya, Opu Daeng Mamangun membagi Selayar menjadi beberapa Opu Lolo diantaranya Opu Lolo Tanete, Opu Lolo Barangmata, Opu Lolo Onto, Opu Lolo Mare-Mare, Opu Lolo Bonto Bangun, Opu Laiyolo, Dll. Dan untuk Opu lolo Mare-Mare sendiri di serahkan kepada Lahalang Daeng Mattili dan merupakan putranya sendiri.

Berikut silsillah Opu Daeng Mamangun

La Patau’ Matanna Tikka Arung Palakka Sultan Alimuddin Idris Ranreng Tuwa Wajo Petta MatinroE ri Nagauleng Mangkau ri Bone XVI (1696-1714)Dan Datu Soppeng XVIII menikah dengan We Ummung (Tenri Ummung) Datu Larompong Petta MatinroE ri Bola Jalajja’na (Putri dari Sattiaraja Petta MatinroE ri Tompotikka Pajung ri Luwu XIX, dari Istrinya yang bernama We Diyo’ DaEng Massiseng Petta I Takalara MatinroE ri LawElareng) melahirkan putra-putri sebagai berikut :

La Temmasonge’ (La Mappasosong) Sultan Abdul Razak Jalaluddin Petta MatinroE ri Mallimongeng Mangkau’ ri Bone XXII (1749-1775), Somba Gowa ke XXVIII (1770-1778) dan Datu Soppeng ke XXV (1746-1747)
We Batari Toja DaEng Talaga Mangkau ri Bone XXI (1724-1749), Pajung ri Luwu XXIII (1715-1748)
We Patimanaware’ Arung Timurung Opu PawElaiyyE ri Bola Ukiri’na
Opu TolEmbaE
La SallE Opu Daeng Panai’

La SallE Opu Daeng Panai’ menikah dengan I BessE Opu DaEng Tarima, melahirkan putra-putri sebagai berikut:

Opu MpElaiyangngi Kannana (suami Opu BoE),
Opu DaEng Talala (suami Maddika Sangalla).

Opu DaEng Talala menikah dengan Maddika Sangalla’, melahirkan : La Konta Opu DaEng Mamangung (Suami Opu MatinroE ri BonE LEmo) (1789-1801)

DaEng Mamangung Bonea mempunyai putra bernama La Halang Daeng Ri Monsong bergelar Opu mare-Mare.

La Halang Daeng Ri Monsong bergelar Opu Mare-Mare mempunyai putra bernama Opu Jangkiong Daeng Ma’bunga

Opu Jangkiong Daeng Ma’bunga mempunyai satu orang Putra dan satu orang Putri diantaranya :
Mahalang Daeng Mattali (Putra)
Marajambu Daeng Ti’no (Putri)

Mahalang Daeng Mattali (Putra) mempunyai putra-putri diantaranya Densu Daeng Makkuling

Densu Dg Makkulin Menikah dengan Daeng Sibollo mempunyai anak 7 orang 4 laki-laki 3 perempuan, menikah lagi dengan Pinra melahirkan seorang laki-laki, kemudian menikah lagi dengan Siti Kasuma Dg Kanan melahirkan Ahmad Rifai Daeng Sirama Patta Kantoro.