Kekuasan kerajaan di wilayah suku-suku To Poso

Oleh: Leo Meranga, FB

Adalah penting untuk diketahui kekuasaan di wilayah Poso mula-mula. Sebab keberadaan kekuasaan ini mempengaruhi kehidupan masyarakat di suku-suku Poso. Pada waktu itu dalam catatan Kruyt ada 4 Kerajaan yang berada di sekeliling wilayah Poso. Yaitu Kerajaan Luwu, Kerajaan Sigi, Kerajaan Tojo dan Kerajaan Mori. Kekuasaan yang paling menonjol pada waktu itu adalah Kerajaan Luwu dan Kerajaan Sigi yang secara politik mempengaruhi kehidupan di wilayah suku-suku Poso. Kekuasaan kerajaan Tojo dan Mori tidak terlalu berpengaruh dalam situasi politik di Poso. Namun demikian untuk kepentingan pembangunan sekolah-sekolah diwilayah-wilayah itu, Kruyt pernah mengunjungi kerajaan ini.
Kekuasaan yang paling berpengaruh dan paling luas adalah kerajaan Bugis Luwu yang berkedudukan di Palopo. Rajanya memakai gelar Datu. Bentuk hubungan kekuasaan dengan suku-suku Poso adalah magis – religius. Artinya, suku-suku di Poso percaya bahwa Luwu dibentengi oleh kekuatan magis. Jika mereka melawan Datu Luwu maka akan sia-sia belaka sebab ada kekuatan magis yang akan menghancurkan mereka. Seluruh pemerintahan alam-semesta dan nasib berada ditangan Sang Datu. Kekuasaan Datu Luwu hanya dititikberatkan pada penaklukan saja. Sebagai bentuk rasa takluk suku-suku di Poso, maka ia harus menyerahkan Pepue (persembahan) kepada Datu Luwu. Datu Luwu tidak memberikan perhatian kepada kesejahteraan suku-suku di Poso. Yang penting baginya ialah memegang suku-suku ini dan pengakuan atas status jabatannya. Sehingga suku-suku di Poso dalam kehidupan social-kemasyarakatannya, cara hidup dan adat istiadat tidak ada campur tangan dari Datu Luwu. Ini menjadi penting untuk menggambarkan kehidupan suku-suku di Poso selanjutnya.
Kekuasaan penting lainnya adalah ialah Kerajaan Sigi yang berkedudukan di Bora. Pengaruh Kerajaan Sigi kental dirasakan di bagian barat suku-suku di Poso. Oleh Kruyt disebutkan Sigi berhasil menguasai sejumlah daerah suku-suku di Poso dengan politik pecah-belah. “Dalam hal inilah kita harus melihat tindakan Parigi dan penggarongan-penggarongan oleh To Napu di Pebato. Demikianlah orang-orang Pebato harus mengakui dua tuan, yakni Luwu dan Sigi”. To Napu sepertinya memiliki naluri perang yang tinggi. Mereka sering kedapatan merajalela di bagian wilayah lain yang sebenarnya merupakan pelanggaran keras pada waktu itu. Mereka merajalela di dilayah Pebato, Lage, Onda’e dan Wingke mPoso. Ada dugaan bahwa agresi yang dilakukan To Napu merupakan tekanan dari Raja Sigi yang berambisi menguasai seluruh wilayah Sulawesi bagian tengah untuk melepaskan diri dari pengaruh Kerajaan Luwu dan mendirikan imperium baru. Namun rencana ini gagal, karena tidak semua rakyat Lore mendukung sebab yang pertalian kekerabatan dengan To Poso.
Dalam situasi tarik-menarik dua kekuata besar ini, maka To Onda’e memiliki peranan yang penting, demikian juga To Napu. To Napu tidak pernah menembus wilayah pertahanan To Onda’e. Oleh To Onda’e, To Napu merupakan ancaman terselubung. Situasi ini sering memicu ketegangan antara Onda’e dan Pebato yang memberikan kebebasan To Napu berkeliaran di wilayahnya. Sehingga muncul niat mengajak To Lage untuk menekan To Pebato. Memegang peran demikian maka dua suku ini menjadi “anak emas” dari dua kerajaan yang memiliki kepentingan politik. Luwu dengan To Onda’e-nya dan Sigi dengan To Napu – nya. Sementara To Pebato dan To Lage berada di tengah sebagai “penengah”. Selanjutnya, keberadaan mereka sebagai penengah inilah yang menghadirkan tokoh-tokoh berpengaruh di suku-suku Poso. Meminjam istilah sekarang, orang-orang yang matang dalam politik praktis. Dugaan yang muncul, inilah alasan Kruyt banyak bergaul dengan Papa I Wunte di Pebato, Pap I Melempo dari Tomasa, Papa I Ndori dan Talasa yaitu pemimpin-pemimpin To Lage di Kalingua, selain untuk memuluskan misi pekabaran injil.

——————————————————————————————————————————————–

Advertisements

Create a free website or blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: