Massenrempulu, konfederasi / Prov. Sulawesi Selatan, Kab. Enrekang

Konfederasi Massenrempulu adalah konfederasi antara 7 kerajaan di Enrekang di Kabupaten Enrekang, prov. Sulawesi Selatan.

Lokasi Enrekang

Provinsi Sulawesi Selatan


* Foto foto Sulawesi dulu, suku Sulawesi dan situs kuno: link


Sejarah Konfederasi Massenrempulu

Di Kabupaten Enrekang, Sulawesi Selatan, bermukim tiga suku: Enrekang, Duri, dan Marowangin. Ke-3 suku itu membentuk kesatuan yang disebut suku Masserrempulu. Masserempulu, secara bahasa Enrekang, berarti melekat seperti beras ketan. Kata yang digunakan untuk menunjukkan kesatuan dari ke-3 suku tersebut. Dalam bahasa Bugis, Masserempulu disebut Masserembulu, yang berarti jajaran gunung-gunung. Suku Masserempulu memang tinggal di daerah yang terdiri dari jajaran gunung-gunung. Gunung yang paling terkenal dan sering dikunjungi para pendaki adalah gunung Latimojong.

Sejak abad XIV, daerah ini disebut MASSENREMPULU’ yang artinya meminggir gunung atau menyusur gunung, sedangkan sebutan Enrekang dari ENDEG yang artinya NAIK DARI atau PANJAT dan dari sinilah asal mulanya sebutan ENDEKAN.

Menurut sejarah, pada mulanya Kabupaten Enrekang merupakan suatu kerajaan besar yang bernama MALEPONG BULAN, kemudian kerajaan ini bersifat MANURUNG dengan sebuah federasi yang menggabungkan 7 kawasan/kerajaan yang lebih dikenal dengan federasi ”PITUE MASSENREMPULU”.

Konfederasi Massenrempulu didirikan Bone pada waktu Bissu Tonang Arung Enrekang Ke III sekitar abad XVI M. Pada awal pembentukan konfederasi ini terdapat tujuh kerajaan didalamnnya sehingga disebut Pitue Massenrempulu yang terdiri dari:

  1. Kerajaan Endekan yang dipimpin oleh Arung/Puang Endekan,
  2. Kerajaan Kassa yang dipimpin oleh Arung Kassa’,
  3. Kerajaan Batulappa‘ yang dipimpin oleh Arung Batulappa’,
  4. Kerajaan Tallu Batu Papan (Duri) yang merupakan gabungan dari Buntu Batu, Malua, Alla’. Buntu Batu dipimpin oleh Arung/Puang Buntu Batu, Malua oleh Arung/Puang Malua, Alla’ oleh Arung Alla’,
  5. Kerajaan Maiwa yang dipimpin oleh Arung Maiwa,
  6. Kerajaan Letta‘ yang dipimpin oleh Arung Letta’,
  7. Kerajaan Baringin (Baringeng) yang dipimpin oleh Arung Baringin.

Pitu (7) Massenrempulu’ ini terjadi kira-kira dalam abad ke XIV M. Tetapi sekitar pada abad ke XVII M, Pitu (7) Massenrempulu’ berubah nama menjadi Lima Massenrempulu’ karena Kerajaan Baringin dan Kerajaan Letta’ tidak bergabung lagi ke dalam federasi Massenrempulu’.

Akibat dari politik Devide et Impera, Pemerintah Belanda lalu memecah daerah ini dengan adanya Surat Keputusan dari Pemerintah Kerajaan Belanda (Korte Verkaling), di mana Kerajaan Kassa dan kerajaan Batu Lappa’ dimasukkan ke Sawitto. Ini terjadi sekitar 1905 sehingga untuk tetap pada keadaan Lima Massenrempulu’ tersebut, maka kerajaan-kerajaan yang ada didalamnya yang dipecah.

Beberapa bentuk pemerintahan di wilayah Massenrempulu’ pada masa pemerintahan belanda, yakni:
kerajaan-kerajaan di Massenrempulu’ pada Zaman penjajahan Belanda secara administrasi Belanda berubah menjadi Landshcap. Tiap Landschap dipimpin oleh seorang Arung (Zelftbesteur) dan dibantu oleh Sulewatang dan Pabbicara /Arung Lili, tetapi kebijaksanaan tetap ditangan Belanda sebagai Kontroleur. Federasi Lima Massenrempulu’ kemudian menjadi: Buntu Batu, Malua, Alla'(Tallu Batu Papan/Duri), Enrekang (Endekan) dan Maiwa. Pada tahun 1912 sampai dengan 1941 berubah lagi menjadi Onder Afdeling Enrekang yang dikepalai oleh seorang Kontroleur (Tuan Petoro).


Sumber

Sejarah Kabupaten Enrekang (Massenrempulu):  https://massenrengpulu.wordpress.com/pertama/sejarah-kab-enrekang/
Sejarah Enrekang di Wiki: Wiki
–  Sejarah Massenrempulu: http://matabugis.blogspot.co.id/2016/05/sejarah-kerajaan-massenrempulu.html
– Suku Massenrempulu: https://www.kompasiana.com/taufikhasyim/mengenal-suku-massenrempulu-di-kabupaten-enrekang_552b8e306ea83426158b4570


 

Advertisements

Blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: