Sejarah Kabaena menurut Mokole (Raja) Kabaena: YM Van Day Tonga Lere

Sejarah Kabaena ini ditulis: Mokole (Raja) Kabaena: YM Van Day Tonga Lere.
————
Sejarah terbaginya Kabaena menjadi tiga wilayah Kerajaan.

Banyak diantara kita masyarakat Kabaena yang pandai dan Pintar menyanyikan lagu ini, tapi banyak pula yang tidak memahami arti dan makna serta unsur kesejarahan dari apa yang tersirat dalam lagu ini. Khususnya pada Bait “DAANO VONUA NTEPETILA OTOLU; TANGKENO, LENGORA, KOTU’A”. Taukah kau kawan? Bahwa awalnya pulau Kabaena itu hanya di perintah oleh satu Mokole/Raja yang berkedudukan di Tangkeno selama kurang lebih dua abad lamanya, namun karena akibat dari suasana huru-hara, kekacauan maka Kamokole’a kobaena di bagi menjadi 3 (tiga) wilayah otonom disebabkan:
1. Secara Eksternal karena terjadinya perang Gowa dengan kompeni Belanda tahun 1664 M, serta hubungan Kerajaan Gowa dan Kesultanan Buton yang tidak harmonis di satu sisi, dan hubungan antara Buton dan Ternate di sisi lain, merupakan ancaman pula bagi Kamokole’a (Kerajaan) Kabaena karena letak pulau kabaena yang strategis, baik diliat dari gowa maupun Ternate sebagai t4 persinggahan kapal2 dagang di masa itu.
2. Secara Internal juga karena keadaan dalam wilayah pulau Kabaena saat itu yang mengalami ketegangan disebabkan karena penduduk pulau Kabaena yang berkembang pesat serta banyaknya rakyat yang mangkir terhadap putusan2 mokole khusus dalam bid perpajakan. Di perkirakan pada tahun 1668 M, oleh syara dewan adat di tangkeno memutuskan bahwa Kabaena di pecah menjadi 3 wilayah yaitu Lengora, Mokole La Nota menikahkan anak Perempuannya dgn Bangsawan Lengora dan kemudian memberikan jabatan Mokole serta keris Pusaka Kerajaan yg bernama: TOBO TANDU TINA MELAA, YAITU BERUPA KERIS YG GAGANGNYA/HULUNYA DARI TANDUK RUSA BETINA. Untuk wilayah Kotu’a terjadi sedikit polemik atas putusan dewan syara’ di Tangkeno karena yang ditunjuk dalam Musyawarah Adat Di Baruga adalah LOHIA Gelar Mbue Sala Ea, menolak jabatan Mokole di sebabkan alasan bahwa Leluhur Day Sala Ea bukanlah turunan Raja tapi adalah Turunan Pemangku Adat Wa Ka Ka, untuk mengantisipasi hal ini, maka oleh Dewan adat kembali lagi ke Tangkeno untuk mermufakat menentukan siapa yang akan jadi Mokole di Kotu’a, dalam putusan itu di tunjuklah POKURU GELAR INSUSURA YG LEBIH DI KENAL DGN NAMA “MBUE TONGA LERE.
Namun, alasan yang sama di sampaikan pula oleh Day Tonga Lere, bahwa kami bukan Raja/Mokole tapi kami adalah Trah Pemangku adat yang berasal dari Vonua Rahadopi, menghadapi alasan ini oleh dewan syara kemudian tetapi mengajukan syarat bahwa Day Tonga lere Sebagai pemegang Amanat Mokole karena permaisurinya I Mbue Moume adalah Puteri bangsawan dari daratan Kerajaan Poleang, seraya di Serahkan Padanya TOBO NTONGKI VONUA SERTA WILAYAH KOTU’A DI PERLUAS DARI MUARA(UMALA) SUNGAI TALAPONDANO KAMPUNG LANGKEMA SEKARANG SAMPAI KE UTARA DI OLOBARO GUNUNG KATOPI BERAKHIR BATAS DI PISING, KABAENA BARAT SEKARANG.
Keputusan itulah yg berlaku sampai sekarang. Dalam pohombunia (Penobatan) Mokole Kotu’a ini, Pokuru Gelar insusura (gelar sebagai penyiar agama) di Tambahkan Menjadi Mbue Ntama Day Tonga Lere Sekedar catatan tambahan, bahwa sejak saat itu pula yang atas nama mokole Kabaena yang menghadiri penobatan Sultan Buton adalah dari Kotua’a, dimulai sejak Penobatan La Tumpamana/Cili-Cili, Sultan Zainuddin Qaimuddin Khalifatul khamis pada Tahun 1680. Untuk pertama kalinya kami dari Kotu’a (Day Tonga Lere) yang menghadiri sampai seterusnya di kemudian hari pada penobatan sultan ke 38/XXXVIII sultan Muh Falihi Kaimuddin. Pada saat itu pula 1680 untuk pertama kalinya leluhur kami bernegosiasi dengan Belanda, Speelman, dan Day Tonga lere mendapat Hadiah Jubah kebesaran dari Sapati Baluwu.
———————————————————————————————————————-

Advertisements

Create a free website or blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: