* FOTO situs kuno di Sulawesi

  Taman Purbakala Batu Pake Gojeng

Lokasi: Kampung/Dusun: Lingkungan Batupake, Desa/Kelurahan: Biringere, Kecamatan: Sinjai Utara, Kabupaten/Kota: Sinjai, Provinsi: Sulawesi Selatan. Menurut para sejarawan, taman purbakala ini berumur ribuan tahun dimana dulunya merupakan tempat pelaksanaan ritual kerajaan. Struktur bebatuan yang ada di kawasannya yang dikenal dengan nama batu Pake’ nampak seperti sebuah meja besar yang dikelilingi tempat duduk dari batu.


Taman Nasional Lore Lindu

Lokasi: Taman Nasional Lore Lindu terletak sekitar 60 kilometer selatan kota Palu, prov. Sulawesi Tengah.
Taman Nasional Lore Lindu (TNLL) merupakan taman nasional.
Patung-patung megalit yang usianya mencapai ratusan bahkan ribuan tahun tersebar di kawasan Taman Nasional Lore Lindu seperti Lembah Napu, Besoa dan Bada. Patung-patung ini sebagai monumen batu terbaik di antara patung-patung sejenis di Indonesia.


Gong Nekara

Lokasi: Pulau Selayar, Kelurahan Bontobangun.
Adalah benda peninggalan sejarah yang menurut data arkeologi berasal dari pusat kerajaan perunggu pada abad ke 2 SM. Gong ini dibawa ke selayar oleh We Tenri Dio anak ke 2 dari Sawarigeding. Pada masanya alat ini digunakan sebagai simbol pemerintahan dan alat komando. Gong Nekara ditemukan pada abad ke-18 (1868). Berlokasi sekitar 4 Km dari kota Benteng. Konon, Gong Nekara ini merupakan gong terbesar di Asia Tenggara.


Batu Pinawetengan, Minahasa

Lokasi: Batu Pinawetengan terletak di Kecamatan Tompaso, kab. Minahasa, Sulawesi Utara.
Batu Pinawetengan ditulis dengan huruf hieroglif, yang sampai kini masih belum terpecahkan cara membacanya. Batu ini merupakan tempat diadakannya Musyawarah Perdamaian keturunan Toar dan menjadi tonggak Sejarah perubahan sistem pemerintahan pada keturunan Toar Lumimuut. Menurut Paulus Lumoindong Musyawarah ini terjadi sekitar tahun 300-400 Masehi.

Batu Pinawetengan, Pelestari Budaya Minahasa – KawanuaPlus


Situs peninggalan Waruga Sawangan

Waruga di Minahasa diperkirakan berkembang pada sekitar awal abad ke-13 sebelum Masehi. Kemunculan Waruga pertama kali di daerah Bukit Kelewer, Treman, dan Tumaluntung, Kabupaten Minahasa Utara. Kemunculan Waruga kemudian terus berkembang di berbagai daerah di Sulawesi Utara hingga awal abad ke-20 Masehi.
Pada zaman pra-sejarah masyarakat Minahasa masih percaya jika roh leluhur memiliki kekuatan magis. Untuk itu, kuburan dibuat secara khusus dengan seindah mungkin. Waruga terdiri dari dua bagian, bagian badan dan bagian tutup. Bagian badan berbentuk kubus dan bagian tutup berbentuk menyerupai atap rumah.


Situs purbakala Bori Parinding

Lokasi: Kalimbuang Bori Kec. Sesean, Kab. Toraja Utara, Sulsel.
Situs purbakal merupakan kawasan kuburan batu dan rante yakni lapangan rumput yang khusus digunakan untuk upacara penguburan yang dipenuhi batu menhir (batu berdiri) berusia ratusan tahun yang didirikan untuk menghormati pemuka adat atau keluarga bangsawan yang meninggal.


Makam megalitik, kab. Barru

Lokasi kompleks Makam Megalitik Sumpang Ralla, Kecamatan Tanete Riaja, Kabupaten Barru.
Kompleks makam megalitik ini sendiri menyimpan banyak cerita yang belum diketahui oleh sebahagian orang. Kompleks makam ini merupakan tiga paduan makam dengan tiga cerita yang berbeda.
Di sisi Barat ada makam yang dinamakan Tampung Lebba dimana tidak ada yang tahu berapa jenazah yang dimakamkan disana. Kata Bapak La Toa’ atau disapa Latoanging “dahulu terjadi perkelahian dengan cara baku tikam, dan semua yang meninggal langsung dimakamkan disitu”. Latoanging juga menjelaskan bahwa antara nisan yang tinggi dan pendek itu merupakan perbedaan ilmu dan latar belakang kekuasaan bahkan tahta.


Rante Karassik, Rantepao

Lokasi: Desa/Kelurahan Lembang Rinding Batu, Kecamatan Kessu, Kabupaten Tana Toraja.
Rante Karassik terletak di sebuah lereng teras yang tidak terlalu terjal, di mana menhir berdiri tegak, berjumlah 26 buah, terdiri dari: 12 batu berukuran besar dan tinggi, 9 berukuran sedang dan 5 berukuran kecil. Di sisi Barat menhir terdapat bangunan lakkian yang berfungsi sebagai tempat persemayaman jenazah pada waktu pelaksanaan upacara. Lingkungannya tertata rapih, terdapat sarana infrastruktur jalan dengan lebar 3 m dan jalan setapak menuju perkampungan.


Situs Desa Onondowa
Sebuah arca megalitik yang menyerupai sosok perempuan yang ditemukan di Desa Onondowa, Kecamatan Rampi, Kabupaten Luwu Utara, Sulawesi Selatan. Diperkirakan arca ini berusia sekitar 2.000 tahun, karena memiliki kemiripan dengan arca megalitik di Lembah Besoa, Kecamatan Loreh Tengah dan Bada, kecamatan Tentena di Sulawesi Tengah. (Tempo/IRMAWATI)


 

Blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: