Botto, kerajaan / Prov. Sulawesi Selatan – kab. Soppeng

Kerajaan Botto terletak di Sulawesi, Kab. Soppeng, prov. Sulawesi Selatan.

Kabupaten Soppeng


Tentang kerajaan Botto

Di Kabupaten Barru, terdapat sebuah desa yang bernama Desa Batu Pute, desa ini masuk kedalam administrasi Kecamatan Soppeng Riaja. Jauh sebelum Kabupaten Barru terbentuk, Batu Pute merupakan sebuah kerajaan vassal atau lili yang berada di bawah kekuasaan Kerajaan Soppeng Riaja. Salah seorang tokoh yang pernah berkuasa di Batu Pute ialah La Wana Datu Botto.


Pemerintahan La Wana Datu Botto di Botto (1825-1849)

La Wana Datu Botto adalah cicit dari We Tenrileleang Pajung Luwu XXI/XXIII sekaligus Datu Tanete dari pernikahannya dengan La Mallarangeng Datu Lompulle Datu Marioriawa. Dari pernikahan We Tenrileleang dengan Mallarangeng, mereka dikaruniai tujuh orang anak antara lain Batari Toja Datu Bakke, menikah dengan La Tenri Peppang Daeng Paliweng Pajung Luwu XXIV.

Kedua Tenri Pada Daeng Maleleng, menikah dengan Arung Jampue. Ketiga, Patimang Menyara Asi Matinroe ri Segeri, menikah dengan Karaeng Sumena. Keempat, I Penangngareng Datu Marioriwawo, menikah dengan La Sunra Datu Lamuru.

Kelima, La Tenri Sessu Opu Cenning Arung Pancana, menikah dengan I Pada Petta Punna Bolae Petta ri Silaja, selain itu juga beristrikan Tenri Lawa Besse Peampo Arung Bonto Use. Keenam, La Manrulu To Kali Datu Lompulle, menikah dengan Yabeng Datu Mario Attang Salo. Dan yang ketujuh La Maddusila Karaeng Tanete, menikah dengan We Tenriseno Datu Citta.

Dari ke tujuh putra-putri We Tenrileleang tersebut di atas salah satunya adalah Penangngareng Datu Marioriwawo yang menikah dengan La Sunra Datu Lamuru yang juga merupakan kakek dan nenek dari La Wana Datu Botto.

Dari pernikahanya I Penangngareng Datu Marioriwawo dengan La Sunra Datu Lamuru, dikaruniai beberapa orang anak, diantaranya La Tenri Datu Botto, Mappaware Datu Lamuru, Mauraga Daeng Maliunga Datu Marioriwawo, La Potto Bune Petta Janggo Pute Datu Ri Bakke matinroe ri Anakketeng, dan La Makkawaru Arung Atakka.

La Tenri Datu Botto menikah dengan Patimang Daeng Baji Arung Batu Pute putri dari La Wawo Addatuang Sidenreng XIII dan lahirlah tiga orang putra diantaranya La Wana Datu Botto.

Masa Pemerintahan La Wana Datu Botto di Botto, Soppeng.

La Wana Datu Botto memerintah di Kerajaan Botto, Soppeng, yang diwariskan oleh ayahnya La Tenri Datu Botto, sekitar tahun 1825 M-1840 M. Dalam masa pemerintahannya itu peperangan antara Bone dan Gowa masih berlangsung. Soppeng pada masa itu merupakan sekutu dari Kerajaan Bone sehingga mau tidak mau kerajaan-kerajaan yang termasuk kerajaan lili atau bagian dari kerajaan Bone harus ikut berperang melawan Kerajaan Gowa.

Pada saat itu La Wana Datu Botto kurang setuju atau menentang peperangan itu, karena akibat dari peperangan tersebut rakyat yang tidak berdosa menjadi korban dan hanya akan memberikan kerugian dikedua belah pihak. Pada masa pemerintahannya di Kerajaan Botto, Soppeng, beliau menikah dengan I Tungke Datu Marioriwawo puteri dari La Rumpang Mega Datu Lamuru dengan Isterinya Pancaitana Arung Akkampeng.

Dari pernikahannya itu dikaruniai beberapa putra diantaranya Abdul Gani Baso Batu Pute Datu Soppeng XXXIV, Walinono Datu Botto dan Tenri Leleang Besse Mario Arung Akkampeng. Walinono menggantikan La Wana memerintah di Kerajaan Botto dan selanjutnya digantikan oleh putranya La Wawo Datu Botto.

La Wana Datu Botto pindah ke Batu Pute (sekarang Soppeng Riaja, Kabupaten Barru). Di tempat itu beliau melanjutkan pemerintahan yang diwariskan dari ibunya Patimang Daeng Baji Arung Batu Pute. Selain pernikahannya dengan I Tungke Datu Mario Riwawo beliau juga menikah dengan Mattingara Arung Palanro Arung Guru Sidenreng dan I Makkawaru. Selain itu beliau masih memiliki istri yang lain dan memiliki putera dari pernikahannya itu.

Dari perkawinannya dengan Mattingara Arung Guru Sidenreng, dikaruniai tiga orang anak yaitu Parellei Petta Leppanae Arung Palanro Petta Manyoroe (Petta dengan pangkat Mayor), Ippung Arung Guru Sidenreng dan Uneng.

Masa Pemerintahan La Wana Datu Botto di Batu Pute, Soppeng Riaja.

Seperti yang telah diuraikan diatas bahwa alasan beliau meninggalkan Kerajaan Botto dan hijrah ke Kerajaan Batu Pute (sekarang dikenal dengan nama Desa Batu Pute, Kecamatan Soppeng Riaja, Kabupaten Barru) adalah karena beliau tidak setuju dengan peperangan dan tidak sampai hati melibatkan rakyatnya dalam peperangan tersebut. Kedua, karena putra beliau Walinono Datu Botto sudah cukup umur dan sudah pantas meneruskan pemerintahan di Kerajaan Botto. Ketiga, beliau meneruskan pemerintahan di Kerajaan Batu Pute yang diwariskan oleh Ibunya Patimang Daeng Baji Arung Batu Pute.

– Sumber dan lengkap: https://www.attoriolong.com/2019/05/riwayat-la-wana-datu-botto-arung-batu.html


Makam La Wana Datu Botto

Makam La Wana Datu Botto terletak di Batupute, Desa Batupute, Kecamatan Soppeng Riaja, Kabupaten Barru, Provinsi Sulawesi Selatan. Makam ini berada persis dalam satu kompleks dengan pemakaman umum yang berlokasi sekitar 500 meter ke arah timur dari Kantor Desa Batupute.

Makam La Wana dilindungi oleh bangunan pelindung berupa kanopi terbuat dari kayu dan atap seng yang telah dibangun oleh ahli warisnya. Sementara bagian lantai di sekitar makam juga telah dibeton dan dipasangi ubin. Di sekeliling makam dipagari dengan pagar besi.
Di dalam bagunan kanopi terdapat dua buah makam yang bersebelahan. Yaitu makam La Wana itu sendiri dan di sebelah baratnya merupakan makam istrinya. Makam La Wana dan istrinya terbuat dari batu padas, kemudian di atasnya ditaburi dengan kerikil dari pecahan batu karang.
– Sumber: https://www.attoriolong.com/2019/05/riwayat-la-wana-datu-botto-arung-batu.html