Todani (Arung Bakke/Datu Bakke) raja di Lima Kerajaan Ajatappareng, 1677-1681.

Sumber:  Facebook, SEJARAH SULAWESI

————————————————–

Penelitian ini bertujuan mengetahui biografi Todani, latar belakang sehingga Todani diangkat sebagai raja di lima Kerajaan Ajatappareng, pemerintahan Todani selama menjadi raja di lima Kerajaan Ajatappareng serta mengetahui akhir pemerintahan Todani sebagai raja di lima Kerajaan Ajatappareng.
Penelitian ini menggunakan pendekatan deskriptif analisis dengan metode penelitian sejarah dengan tahapan-tahapan yakni heuristik merupakan tahap mengumpulkan data atau sumber, kritik sumber yaitu penyeleksian terhadap sumber ataupun data, interpretasi yakni penafsiran terhadap fakta-fakta , dan historiografi merupakan tahap penulisan sejarah. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Todani merupakan keturunan dari raja raja yang pernah berkuasa di lima kerajaan yang ada di wilayah Ajatappareng.
Todani merupakan putera dari We Tasi Pettaubenge yang menikah dengan Lapabila Datu Citta. Namun sebelum menjadi penguasa tunggal kerajaan yang ada di wilayah Ajatappareng, Todani pernah menjadi Datu Pattojo, Datu Citta, serta Karaeng di Galingkang. Latar belakang diangkatnya Todani sebagai penguasa tunggal kerajaan yang ada di Ajatappareng itu karena perjuangannya bersama Arung Palakka membebaskan Kerajaan Bone dan Kerajaan Soppeng dari Kerajaan Gowa. Keberhasilan yang diperolehnya bersama bangsawan bugis lainnya membawa nama Todani menjadi dikenal hingga ia menjadi raja di Kerajaan Sidenreng, Kerajaan Sawitto, Kerajaan Suppa, Kerajaan Alitta dan Keraajaan Rappang.
Pemerintahan Todani selama menjadi penguasa tunggal di lima kerajaan sekaligus melanggar beberapa perjanjian dengan pihak Arung Palakka yang mengakibatkan Todani dibunuh atas perintah Arung Palakka dan berakhirlah kekuasaan Todani di Salemo. Dari hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa strategi Todani semenjak memiliki kekuasaan penuh atas Lima Kerajaan tersebut memberikan dampak negatif bagi dirinya. Keinginann.

Yang lebih ingin menguasai atau menjadi penguasa tunggal di Sulawesi Selatan membuat penguasa di Sulawesi Selatan pada abad ke 17 yakni Arung Palakka marah terhadap Todani dan pada akhirnya Todani dibunuh atas perintah Arung Palakka di Pulau Salemo, hingga kini nama Todani dikenal dengan Addatuatta Matinroe Ri Salemo.