Suku Pamona (Poso) – wilayah Poso, prov. Sulawesi Tengah

Pamona (seringkali disebut sebagai suku Poso, Bare’e, atau To Pamona) mendiami hampir seluruh wilayah Kabupaten Poso, sebagian Kabupaten Tojo Una-Una dan sebagian Kabupaten Morowali Utara. Hampir seluruh orang Pamona memeluk agama Kristen. Kristen masuk ke wilayah Poso tahun 1892
Jumlah populasinya sekitar 125.000 jiwa.

Dulu sampai sekarang ada beberapa Kerajaan di wilayah Poso: kerajaan di Poso

Wilayah Poso


Sejarah

Wilayah dataran tinggi di sekeliling Danau Poso merupakan rumah bagi tujuh subsuku dengan hubungan kekerabatan dekat, yang menurut legenda adalah keturunan dari enam saudara laki-laki dan satu saudara perempuan. Legenda tersebut menjelaskan bahwa setelah mereka menggulingkan penindas mereka, ketujuh saudara tersebut memutuskan untuk berpisah dan membentuk komunitasnya sendiri. Untuk mengenang kejadian ini, mereka membuat tujuh “batu pemisahan” (bahasa Pamona: Watu Mpoga’a) yang masih dapat ditemukan saat ini di Tentena.

Pamona menjadi sebuah suku bangsa yang disatukan di bawah pemerintahan kolonial Belanda.
adat Pamona yang dilembagakan sebelumnya dibagi dengan beberapa otoritas. Untuk Poso, dipimpin oleh Datu Poso dan beberapa kabosenya (tetua) yang merepresentasikan kelompok suku mereka masing-masing. Di Luwu, dipimpin oleh Makole Tawi dan keberadaan institusi adat Pamona saat ini terbagi menjadi dua lembaga. Di Poso, dinamakan Majelis Adat Lemba Pamona Poso, sedangkan di Tanah Luwu (Kabupaten Luwu Timur dan Kabupaten Luwu Utara) disebut Lembaga Adat Lemba Pamona Luwu. Saat ini, keberadaan dari beberapa lembaga ini masih dijaga oleh komunitas Pamona.

Mata pencaharian

Mata pencaharian utama masyarakat ini adalah pertanian di ladang tebang bakar dan berpindah, walaupun sebagian sudah ada pula yang bercocok tanam menetap di sawah dan kebun. Tanaman utamanya adalah padi, disamping jagung, sayur-mayur dan palawija. Pada masa sekarang mereka semakin tertarik kepada pertanian menetap, terutama sejak diperkenalkannya tanaman komoditi seperti cengkeh dan kopi. Sebagian anggota masyarakatnya masih memiliki mata pencaharian sebagai peramu hasil hutan dan berburu binatang liar.

Agama dan kepercayaan Suku Pamona

Pada masa sekarang orang Pamona sudah memeluk agama Islam atau Kristen. Sistem kepercayaan asli mereka bersifat animisme dan mempercayai adanya dewa-dewa (pue) yang mempengaruhi alam dan kehidupan. Tokoh dewa yang paling mereka segani adalah Pue N’Palaburu, yaitu dewa pencipta alam yang berdiam di tempat matahari terbit dan terbenam, karena itu juga dikenal sebagai Dewa Matahari.
Tokoh dewa yang sering dimintai pertolongan dalam pengobatan penyakit karena gangguan roh jahat adalah Pue Ni Songi. Dewa yang sering pula dihubungi untuk berbagai upacara keagamaan adalah Wurake. Selain dewa-dewa, kekuatan adikodrati lain mereka anggap berasal dari roh-roh nenek moyang. Kekuatan makhluk gaib itu hanya bisa dihubungi dengan perantaraan para syaman. Roh para leluhur perlu diberi sesajian dalam setiap tahap proses perputaran lingkaran hidup, serta untuk meminta perlindungan agar jangan diganggu oleh makhluk jadi-jadian yang disebut tau mepongko.


Sumber

– Suku Pamona: https://id.wikipedia.org/wiki/Suku_Pamona
– Suku Pamona: http://suku-dunia.blogspot.com/2014/11/sejarah-suku-pamona-di-sulawesi.html
– Nenek moyang Suku Pamona: http://jaringangin1.blogspot.com/2014/02/asal-nenek-moyang-suku-pamona.html
– Suku Pamona: http://arti-definisi-pengertian.info/mengenal-suku-bangsa-pamona/


Suku Pamona dulu. – Sumber: Tropenmuseum, Netherlands