Suku Rejang – Sumatera, Bengkulu

Suku Rejang adalah salah satu suku bangsa tertua di Sumatera. Suku Rejang mendominasi wilayah Kabupaten Rejang Lebong, Kabupaten Kepahiang, Kabupaten Bengkulu Tengah, Kabupaten Bengkulu Utara, dan Kabupaten Lebong. Berdasarkan perbendaharaan kata dan dialek yang dimiliki bahasa Rejang, suku bangsa ini dikategorikan Melayu Proto.

Provinsi Bengkulu

Provinsi Bengkulu

————————————————————————————————————————————-
* Foto foto Suku Rejang: link

* Foto foto situs kuno dan suku-suku di Sumatera dan Sumatera dulu: link
————————————————————————————————————————————–
Sejarah Suku Rejang

Asal-usul suku Rejang sendiri tidak diketahui secara pasti, namun suku Rejang ini dikategorikan sebagai Proto Malayo, yang berarti sebagai salah satu suku tertua di Sumatera. Sejarah asal-usul suku Rejang telah terhapus dan hilang atau tidak tercatat, sehingga hanya terdapat beberapa spekulasi sejarah mengenai asal-usul mereka, selain beberapa cerita rakyat yang tidak dapat dibuktika kebenarannya.

Sejarah suku bangsa Rejang dapat dibagi menjadi dua bagian, yaitu sejarah Rejang Purba dan sejarah Rejang Modern.
Sejarah Rejang Purba dimulai dari masa kedatangan kelompok bangsa Mongolia di Bintunan Bengkulu Utara pada tahun 2090 SM hingga sebelum kedatangan para Ajai di pertengahan abad ke 14 masehi.
Sejarah Rejang Modern dimulai dari masa kedatangan dan kepemimpinan para”Ajai” di Renah Skalawi ( 1348) hingga sekarang.

Sulit sekali mendeteksi sejarah asal usul suku Rejang. Meskipun demikian, masih ada satu peninggalan yang masih diwariskan secara nyata dan masih ada hingga sekarang. Warisan tersebut adalah bahasa Rejang, sebuah bahasa yang unik yang belum punah hingga sekarang. Walaupun bukti-bukti arkeologi belum ada terbukti keberadaannya secara fakta, tapi bahasa dapat dijadikan pedoman menelusuri sejarah Rejang.

Setelah Inggris secara resmi menyerahkan pemerintahan di Bengkulu kepada Belanda pada 6 April 1825, nasib masyarakat Bengkulu dan daerah pesisir tetap menderita di bawah belenggu kolonial. Kondisi itu berbeda dengan masyarakat Rejang di daerah pedalaman atau pegunungan yang tidak pernah mengalami penjajahan hingga tahun 1860. Keberuntungan itu dikarenakan letak daerah Rejang yang jauh di pedalaman dan dikelilingi bukit barisan serta hutan rimba yang masih sangat belantara. Sebelum Belanda menyambangi Tanah Pat Petulai, peradaban masyarakat Rejang sudah lebih maju dibandingkan dengan masyarakat lainnya.
Hal ini dibuktikan dalam masyarakat Rejang telah memiliki pemerintahan masyarakatnya sendiri yang terdiri dari 5 orang tuwi kutei. Kutei merupakan suatu masyarakat hukum adat asli yang berdiri dan geneologis terdiri dari sekurang-kurangnya 10 hingga 15 keluarga atau rumah, sedangkan tuwi kutei merupakan kepala kutei yang dipilih berdasarkan garis keturunan pendiri petulai (kesatuan kekeluargaan masyarakat Rejang yang asli).

———————————————————————————————————————————————–
Sumber

Asal muasal gelar Pangeran di Tanah Rejang (bah. inggris): http://rejangkeme.blogspot.co.id/2009/01/origin-of-title-of-pangeran-in-rejang.html

Suku Rejang di Wiki: https://id.wikipedia.org/wiki/Suku_Rejang
– Sejarah Suku Rejang: http://suku-dunia.blogspot.co.id/2014/11/sejarah-suku-rejang-di-sumatera.html
– Sejarah Suku Rejang: http://protomalayans.blogspot.co.id/2012/08/suku-rejang.html
– Asal usul orang Rejang: http://pesona4rejanglebong.blogspot.co.id/2011/10/asal-usul-orang-rejang.html
– Sejarah Suku Rejang: http://ferivandalis.blogspot.co.id/2016/01/mengulas-secara-singkat-sejarah-suku.html


 —————————————————————————————————————————————–

Advertisements

Create a free website or blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: