Suku Manggarai – Flores

Suku Manggarai, adalah suatu suku yang berada di pulau Flores di kabupaten Manggarai provinsi Nusa Tenggara Timur. Populasi orang Manggarai diperkirakan sekitar 500.000 orang.

Pulau Flores

Pulau Flores

Lokasi pulau Flores

Lokasi pulau Flores

———————————————————————————————————————-
* Foto foto Suku Manggarai: link


Tentang Suku Manggarai
.
Suku Manggarai adalah suku asli di Flores yang hidup di kabupaten Manggarai Barat dan Manggarai Timur, dan hidup berdampingan dengan suku-suku lain, seperti suku Ngada, Ende, Lio, Flores Timur. Suku-suku tersebut sebagai suku-suku terbesar di Flores. Selain suku-suku tersebut, masih terdapat banyak suku-suku kecil lainnya yang tersebar di Flores.

Suku Manggarai sendiri terdiri dari bermacam-macam suku kecil (sub-suku) dan klan-klan yang memiliki bahasa dan dialek masing-masing, serta adat-istiadat yang unik. Selain itu masing-masing suku-suku kecil juga memiliki rumah tradisional, upacara adat dan pakaian adat sendiri.
—————————————————————————————————————–
Masyarakat
.
Pada zaman dulu di Manggarai terdapat sebuah kerajaan. Pada masa sekarang sisa-sisanya masih kelihatan berupa pembagian wilayah tradisional ke dalam wilayah adat yang disebut dalu. Pada zaman dulu jumlah dalu ini sampai 39 buah. Tiap-tiap dalu dikuasai oleh satu klen atau wau tertentu. Dalam setiap dalu terdapat beberapa buah glarang dan di bawahnya lagi terdapat kampung-kampung yang disebut beo. Orang-orang dari wau yang dominan dan menguasai dalu menganggap diri mereka sebagai golongan bangsawan. Antara satu dalu dengan dalu lainnya sering mengadakan aliansi perkawinan dalam sistem yang mereka sebut perkawinan tungku (semacam perkawinan sepupu silang). Antara dalu dengan glarang sering pula terjadi perkawinan, karena sebuah glarang umumnya juga dikuasai oleh sebuah wau dominan.
Dalu sebagai bawahan kerajaan dipimpin oleh seorang kraeng, yang biasanya dipanggil Kraeng Adak. Kraeng yang dianggap berjasa berhak memperoleh gelar Sangaji dari raja. Sementara itu adanya wau yang dominan itu maka dalam masyarakat Manggarai terdapat pelapisan sosial yang cukup jelas. Pertama adalah golongan yang menganggap dirinya bangsawan, yang biasanya memakai gelar kraeng. Kedua adalah golongan rakyat biasa yang disebut ata lahe. Golongan ketiga adalah hamba sahaya atau mendi. Tentu saja pada zaman sekarang pelapisan sosial ini sudah semakin kabur.
———————————————————————————————————————-
Agama Suku Manggarai
.
Pada masa sekarang orang Manggarai sudah memeluk agama-agama besar. Wilayah Kedaluan bagian timur kebanyakan memeluk agama Katolik, Kedaluan sebelah utara, barat, dan selatan umumnya beragama Islam, dan sebagian kecil beragama Protestan. Sementara itun sisa-sisa kepercayaan lama masih terlihat di beberapa tempat. Pada zaman dulu masyarakat ini memuja roh nenek moyang (empo atau andung) dan amat hati-hati terhadap gangguan makhluk halus yang disebut golo, ata pelesina, naga, dan lain-lain. Mereka juga memiliki dewa tertinggi yang disebut Mori Karaeng.
——————————————————————————————————————–
Kekeluargaan Suku Manggarai
.
Keluarga inti mereka sebut cak kilo. Keluarga-keluarga inti ini bergabung dalam keluarga batih patrilineal (keluarga luas terbatas) yang disebut kilo. Beberapa kilo yang berasal dari satu kakek moyang yang sama tergabung menjadi klan yang disebut panga. Pada masa sekarang nampaknya panga-panga itu lebih banyak berfungsi sebagai sumber nama kekerabatan. Pada masa dulu panga-panga itu masih merupakan bagian dari klan yang lebih besar (wau).
—————————————————————————————————————–
Sumber
———————————————————————————————————————-

Blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: