.Jejak dan sejarah masuknya Islam di Sangihe Talaud

Penulis: Iverdixon Tinungki
http://barta1.com/2019/06/24/jejak-dan-sejarah-masuknya-islam-di-sangihe-talaud/?fbclid=IwAR2tre6wuTox2wA6PKEXFgFdh0gNKPAliWMTkb_kBAHH8MmJc7kSac6TgTY

————————————————-

Di Kota Tahuna, ada Sjahrul Ponto. Ia budayawan Sangihe dari keturunan raja-raja Kerajaan Kendar (Kendahe) dan Kerajaan Tabukan—bahkan juga kerajaan Siau. Menyimpan sejumlah peninggalan kerajaan dan aneka karya sastra lama, adalah bagian dari hobi lelaki yang tinggal di salah satu rumah Raja tersebut. Budayawan bernama Mahare juga di sana, ketika penulis berkunjung ke kediaman Sjahrul Pontoh, belum lama. Sambil menyerup kopi di beranda rumah tua dengan arsitektur campuran gaya Eropa dan Sangihe ini, penulis juga disugukan permainan tetabuhan Tagonggong mengiringi syair-yair “Sasambo” oleh keduanya.

Meski sesekali diselingi celoteh, ada suasana magis ketika itu, apalagi malam mulai larut, dan angin laut dari teluk Tahuna sayup-sayup menerpa pepohon di bebukit jalan dari Tahuna menuju negeri yang dulunya menjadi pusat kerajaan Tabukan. Betapa tidak, Sasambo adalah seni ritual, mengalir dalam perpaduan ritmik bunyi ketukan Tagonggong dan puisi lama bercirikan mantra, talibun dan gurindam. Pada kelokan laguan tertentu, nuansa Islami sangat terasa membalun.

Pak Mahare, panggilan keseharian budayawan senior asal Kendahe itu, tentu tak diragukan lagi kepiawaiannya dalam memainkan alat music tradisi, serta kedalaman penguasaan pengetahuan sastra dan budaya negerinya. Ia termasuk tokoh budaya yang selalu tampil memimpin berbagai pelaksanaan pesta budaya, di antaranya “Tulude” pada setiap 31 Januari saban tahun.

Sementara meski terbilang berusia muda, Sjahrul, juga boleh dikata lancar melafalkan syair-syair tua dari era ratusan tahun silam. Bahkan ia dikenal mendalami ilmu semedi –semacam yoga—dari khazanah kebudayaan kerajaan masa lalu. “Kerajaan Kendar dan Tabukan telah mewariskan tradisi dan nilai-nilai adiluhung dalam khazanah kebudayaan Indonesia,” kata Sjahrul.

Selain pada puisi lama, dalam hal pengobatan tradisional, pembuatan kapal, perahu dan rumah, kata dia, masyarakat tradisi di sana masih mengenal syariat (syarat atau aturan) yang selayaknya diikuti dan dipatuhi sehingga apa yang diharapkan bisa terpenuhi.

“Di sini semua pohon dan tumbuhan, serta alam pada umunya diyakini memiliki roh penjaga, maka segala tindakankan yang berhubungan dengan semua itu harus melewati syariatnya,” ungkapnya.

Puisi-puisi mantra yang berkunci larik “Bismillah bisa”, lazim ditemukan di Sangihe Talaud. Bahkan tradisi lebaran ketupat yang diketahui merupakan warisan budaya Jawa sejak masa pemerintahan Raden Fatah dari Kerajaan Islam Demak pada abad ke-15, seperti Hari Raya Islam lainnya, dirayakan dengan takjub.

“Di sini lebaran ketupat dirayakan pada hari ke 8 (delapan) di bulan syawal, dengan pemaknaan antara lain, hari perayaan sesudah melaksanakan puasa Syawal 6 (enam) hari, hari untuk menyantuni setiap orang dengan menyuguhkan ketupat, dan hari meleburkan diri untuk saling memaafkan agar bersih dari dosa dan kesalahan kepada orang untuk kembali kepada fitrah,” ungkap Ridwan Naki SAg, satu tokoh NU di kepulauan Sangihe, kepada Rendy Saselah dari Barta1.com.

Ada patahan instrumen sejarah yang mengelompokkan kerajaan-kerajaan yang pernah ada di Kepulauan Sangihe dan Talaud sebagai bagian dari kerajaan bercorak Kristen, sehingga alur sejarah Islam di kawasan itu sekadar mendapat tolehan yang muram.

Sementara ribuan peninggalan karya sastra lama, tradisi dan budayanya memancarkan jejak Islam nan elok di negeri para pesyair dan pelaut itu, sebagaimana disyaratkan puisi lama bernuansa Islami peninggalan Kerajaan Kendahe, Sangihe di bawah ini:
Dumaļeng su apeng nanging
Manendeng banuang
Banuang datungĮangi
Soļe tama soļe
Buntuang takumakibang
Iamang ianang magenda putung
Su hiwang Fatimah
Duatang Langi

Terjemahan penulis. Sumber: Sjahrul Ponto:

Berjalan di pantai cahaya
Membawa gemerlap budaya
Kalam Tuhan bunda Semesta
Geser tak bergeser
Lapar tak menyerah
Ayah dan anak memetik api
di pangkuan Fatimah
dan Tuhan yang sejati

Buruntung, kendati baru sedikit bacaan yang bisa dijumpai menelisik sejarah dan pertumbuhan Islam di Kepulauan perbatasan antara Indonesia-Filipina ini, “Bulan Sabit di Nusa Utara, Perjumpaan Islam dan Agama Suku di Kepulauan Sangihe dan Talaud. (2010)” karangan Dr. Ivan R.B. Kaunang, S.S. M. Hum, cukup memberi sinar di tengah sedikitnya literatur yang membincangkan Islam di negeri itu.

Kerajaan Kendar atau Kendahe (1600) dan Kerajaan Tabukan (1530), ungkap Kaunang, merupakan 2 kerajaan Islam di pulau Sangihe yang pernah eksis selama ratuhan tahun, dan mewariskan Islam hingga kini di negeri 124 pulau ini.

Jejak kebudayaan Islam di Sangihe Talaud memang terlihat jernih hingga kini, selain pada puisi-puisi mantra, artefak kerajaan, juga pada sejumlah tradisi profetis Islami yang masih terpelihara.

Aktivitas Perdagangan dan Penyebaran Islam

Jauh sebelum bangsa Barat datang ke Nusantara, penduduk di Kepulauan Sangihe dan Talaud telah lama membangun hubungan dagang dengan para pedagang asing dari Cina, Arab, India dan pedagang pribumi seperti Makassar, Jawa, dan lainnya yang berkunjung ke daerah tersebut. Di era itulah Islam mulai menyentuh Sangihe Talaud.

Penulis “Onze Zendingsvelden De Zending op de Sangi – en Talaud- eilanden” D. Brilman mengungkap, sebelum Ferdinand de Magelhaes sampai ke pulau-pulau ini pada 1521, orang Cina dan Arab sudah lama berdagang dengan penduduk Sangihe Talaud dan kawin mawin dengan penduduk pribumi setempat. Penduduk pulau-pulau ini juga sudah berhubungan dengan para penangkap ikan paus dari Amerika.

Mengutip laporan pelaut Pieter Alstein dan David Haak pada tahun 1689, Brilman menyebutkan di era itu penduduk Sangihe Talaud telah melakukan pelayaran dengan perahu-perahu milik mereka sampai ke Batavia, Malaka, Manila, dan Siam.

Sementara dalam catatan Kaunang, pasca-runtuhnya kerajaan Islam Demak pada 1546 para pedagang dan ulama serta pejuang Islam mulai mengalihkan perhatian mereka ke melayau, Aceh, Makassar, Kalimantan, Maluku sampai Sulu-Filipina lewat aktivitas perdagangan.

Perkembangan Islam di Maluku terutama di Ternate dan Tidore awal abad 15, tulis dia, menyebabkan mata rantai pulau-pulau yang berdekatan dengan Ternate terutama pantai-pantai di Sulawesi mulai mengenal Islam.

Sangihe Talaud sebagai daerah di tepian perlintasan antara Jalur Utara Filipina dan Jalur Selatan Ternate sebagai pusat Islam di Indonesia Timur menjadi muasal persentuhan dengan Islam pada kurun awal ungkap penulis Drs Alex J. Ulaen DEA dalam “Nusa Utara Tepian Perlintasan” (1997).

Tepian perlinatasan itu, tulis Ulaen, terletak pada jalur pelayaran dari daratan Cina Selatan ke Kepulauan Maluku melalui Laut Cina Selatan, Laut Sulu, Laut Sulawesi, dan Laut Maluku. Sangihe Talaud menjadi tempat persinggahan para pelaut dan pedagang ini.

Tetang Jalur Utara Kesultanan Sulu-Mindanau, Filipina Selatan yang berperan besar sebagai pintu masuk agama Islam ke kepulauan Sangihe Talaud, Sulawesi Utara, juga terungkap dalam Seminar Sejarah Nasional III tahun 1981 di Jakarta.

Seminar itu menyimpulkan, Kepulauan Sangihe Talaud pada abad ke 16 sudah mengenal Islam. Masuk lewat jalur perdagangan dan pelayaran pada masa itu yang turut membawa kebudayaan Islam lewat jalur Filipina dari utara dan jalur selatan melalui Ternate.

Perlu diketahui, jarak antara Pulau Miangas di Talaud dengan pulau-pulau bagian Selatan Filipina 75 mil laut. Lebih dekat lagi kalau dari Pulau Marore di Sangihe hanya 35 mil laut. Jarak antara pulau Siau dan Ternate 40 mil laut. Sementara dari Miangas ke Manado sebagai ibukota Provinsi Sulut 145 mil laut.

Sejumlah sumber sejarah juga menyebutkan, penyebaran agama Islam di Kepulauan Sangihe Talaud erat hubungannya dengan kegiatan perdagangan laut terutama sejak kejatuhan Malaka ke tangan Portugis (1511). Kegiatan perdagangan memungkinkan adanya kontak dengan pelaut dan pedagang – pedagang asing, termasuk pelaut dan pedagang yang memperkenalkan agama Islam.

Namun sebagaimana sentil Kaunang, sumber sejarah mengenai hal ini hanyalah berupa historiografi lokal maupun peninggalan purbakala yang masih terbatas jumlahnya. Salah satu di antaranya adalah peninggalan situs bekas istana kerajaan Islam terbesar, yakni kerajaan Tabukan di Pulau Sangir Besar.

Menurut Tumenggung Sis, kutip Kaunang, agama Islam masuk ke Nusa Utara (Sangihe Talaud) pada akhir abad ke- 15 di Kerajaan Tabukan dan mencapai puncak kemantapan pada pertengahan abad ke- 16, yakni tahun 1550.

Melalui suatu kurun waktu yang panjang, papar dia, Kerajaan Kendahe dan Tabukan khususnya, dan umumnya Kepulauan Sangihe dan Talaud, menerima pengaruh Islam dari dua jurusan. Pertama, agama Islam masuk dari arah utara, yakni dari Kedatuan Sulu-Mindanao, setelah melalui suatu perjalanan yang panjang dari Malaka, Brunei, Sulu, Mindanao, Sangihe dan Talaud yang diperkirakan pada akhir abad ke- 15.

Sumber–sumber lokal mencatat hubungan pertama dengan agama Islam yang datang dari kesultanan Sulu-Mindanao dimulai akhir abad 15 yang bermuara di Kedatuan Lamauge pada masa Datu-Raja Taboi memerintah, dalam wilayah kekuasaan Kedatuan Tabukan. Selain Kedatuan Lumauge, Kedatuan Kendahe juga mendapat pengaruh Islam yang di bawah oleh Syarif Mansur Ali, seorang bangsawan muslim bergelar kulano dari Kedatuan Mindanao.

Pada masa kedatangan Syarif Mansur Ali, jelas Kaunang, Kedatuan Kendahe di bawah kekuasaan seorang kulano-datu bernama Wagama. Kulano-datu Wagama kemudian digantikan oleh Syarif Mansur Ali dan agama Islam pun mulai menyebar sampai Kedatuan Talawide.

Pada masa Mansur Ali, agama Islam pun selain dianut oleh raja, bangsawan dan kerabatnya, juga telah mendapat simpati dari rakyat dalam kehidupan bermasyarakatnya, walaupun disadari masih ada yang menganut agama tradisional yang percaya pada kuasa aditinggi I Gengghonalangi Ruata (Dia Pencipta yang berkuasa di atas langit dan bumi).

Di Kerajaan Tabukan, agama Islam semakin kokoh pada paruh pertama abad ke- 17, yakni pada masa pemerintahan Raja Gamanbanua (1610). Pada masa ini dengan kepeloporan Raja Gamanbanua di Tabukan dan Syarif Mansur Ali di Kendahe dan Talawide, tata pemerintahan mulai diatur menurut akidah keislaman, termasuk di dalamnya berbagai hak dan kewajiban seorang muslim.

Selain Syarif Mansur Ali, tulis dia, dikenal juga tokoh pribumi sezaman yang turut mengislamkan Nusa Utara. Nama tokoh tersebut adalah Umar Massade atau Mas’ud yang kemudian lebih akrab dikenal dengan panggilan Imam Massade. Dijelaskan, Pada umur enam belas tahun, Massade dari Kerajaan Lamauge pergi belajar dan berguru agama Islam di Tugis-Mindanao atau Tubis menurut sebutan orang Sangir, kemudian ke Ternate dan menyempatkan diri naik haji ke Mekkah.

Ini sebabnya, ungkapnya, boleh jadi sebelum agama Islam diperkenalkan oleh para mubalig dari Suku-Mindanao, agama Islam telah dianut oleh sebagian kecil masyarakat secara individu dalam rangka hubungan perdagangan dan dilanjutkan dengan hubungan – hubungan perkawinan dengan wanita – wanita pribumi.

Hal ini terlihat dari keaktifan yang dilakukan Imam Massade bersamaan dengan kedatangan para kulano muslim dari Sulu-Mindanao, yakni memperdalam agama Islam di Tugis-Mindanao, kemudian ke Ternate.

Lebih jauh, selain Imam Massade atau Mas’ud, dikenal juga tiga orang imam yang pernah berguru dan mendalami dasar – dasar keislaman di Kedatuan Sulu dan Mindanao. Ketiga orang imam tersebut adalah Imam Hadum atau Hadung, Imam Mahdum atau Makhung, dan Imam Biangkati.

Dalam sejarah lokal Filipina, tulis Kaunang, abad ke- 13 sampai abad ke- 16 banyak pedagang – pedagang Islam yang datang ke Kalimantan terus melanjutkan perjalanan ke Sulu-Filipina dalam perjalanan mereka ke utara menuju Cina. Selanjutnya dijelaskan, selain para pedagang Islam tersebut, pada pedagang Islam yang berasal dari Indonesia, yang pulau–pulaunya berdekatan, juga datang di Kedatuan Sulu dalam rangka penyebaran agama Islam. Disebutlah salah satu nama yang datang, yakni Mahdumin, yang ajarannya banyak dipengaruhi oleh sufisme.

Mahdumin, selain mengajarkan unsur – unsur dasar Islam, juga mendirikan masjid – masjid sederhana. Dapat dipastikan nama ini adalah Mahdum atau Makhung yang dikenal sebagai imam yang menyebarkan agama Islam di Sangihe Talaud.

Akan tetapi, ungkap dia, dalam tempo yang tidak begitu lama, agama Islam harus berbenturan dengan bangsa – bangsa Barat yang membawa panji – panji Salib, yang juga mempunyai kepentingan ekonomi, politik, dan meyebarkan agama Katolik, Protestan di wilayah ini.

Bangsa Barat pertama yang dikenal di daerah ini adalah bangsa Portugis dan Spanyol (abad ke- 16). Portugis masuk melalui kesultanan Ternate- Maluku, sedangkan Spanyol masuk melalui Filipina. Selanjutnya VOC- Belanda (abad ke- 17) melalui Ternate.

Perkembangan kemudian Spanyol dan Portugis harus angkat kaki karena kekuasaan VOC- Belanda atas Ternate pada masa gubernur Jendral Padbrugge yang mengklaim Sangihe Talaud masuk dalam bagian kerajaan Ternate.