* FOTO situs kuno di Maluku

Situs di P. Kisar. Periset dari Australian National University (ANU) di Canberra, Australia, dan Universitas Gadjah Mada (UGM) di Yogyakarta telah menemukan sebuah pulau kecil tak berpenghuni di Indonesia dan belum pernah dieksplorasi oleh arkeolog, ternyata sangat kaya akan lukisan gua kuno yang berusia setidaknya 2.500 tahun.
Tim tersebut menemukan 28 situs seni batu kapur di Kisar, sebuah pulau dengan luas hanya 81 kilometer persegi di kepulauan Maluku.

————————————–

Situs Hatuhuran, P. Seram. Lokasi: P. Seram. Situs Hatuhuran memiliki karakter megalitik, sebagaimana ditandai dengan keberadaan dolmen (meja batu) sebagai penanda situs.
Situs Hatuhuran yang memiliki karakater zaman megalitik atau masa prasejarah akhir itu, adalah lokus yang menjadi titik pengamatan ketiga yang diberi kode HTS-13 olehnya dan tim ketika melakukan ekskavasi di dalam komplek kawasan purbakala Hatusua pada 16 Mei 2014.

————————————–

Situs Batu megalitik di P. Yamdena. Berbentuk kapal di Sangliat Dol, Wer Tamrian, kawasan barat daya Pulau Yamdena, Maluku Tenggara Barat (MTB), Maluku, Sabtu (16/8). Formasi batu megalitik yang tepat berada di pusat desa Sangliat Dol ini, berbentuk perahu yang sampai saat ini digunankan untuk upacara adat warga setempat.
Batu yang diperkirakan berasal dari zaman megalitikum di Maluku. Bangunan ini menjadi pusat kegiatan masyarakatnya, mulai dari membangun rumah hingga upacara-upacara adat.

————————————–

Situs pemukiman PP. Aru. Lokasi: Pulau Ujir, Kecamatan Pulau-Pulau Aru, Kabupaten Kepulauan Aru.
“Kami belum tahu seberapa tua usianya tapi dari berbagai bukti, seperti pecahan keramik-keramik dari Tiongkok, kemungkinan antara abad 17 atau 18. Tapi bisa jadi usia perkampungan itu lebih tua karena harusnya ada pemukiman dulu barulah ada perdagangan,” kata Arkeolog Wuri Handoko, di Ambon.

————————————–

Situs Perkampungan kuno di P. Tanimbar. Lokasi: Pulau Tanimbar, Kabupaten Maluku Tenggara Barat.
Balai Arkeologi Ambon akan meneliti jejak perkampungan kuno di Pulau Tanimbar, Kabupaten Maluku Tenggara Barat, pada 11 Maret 2014.
“Kami akan membuat survei lanjutan mengenai situs-situs kepurbakalaan, terutama mengenai pemukiman kuno masyarakat di bagian utara Pulau Tanimbar,” kata Arkeolog Balai Arkeologi Ambon Marlon Ririmase.

————————————–

Situs kuno pemukiman P. Fordata. Tim peneliti dari Balai Arkeologi Ambon menemukan 15 situs perkampungan kuno di Pulau Fordata, Kecamatan Tanimbar Utara, Kabupaten Maluku Tenggara Barat.
“Semua wilayah di Fordata yang kami survei memiliki jejak peninggalan perkampungan kuno. Totalnya sekitar 15 titik perkampungan kuno yang potensial,” kata Arkeolog Marlon Ririmas, di Ambon, Kamis (27/3/2014).
Ia mengatakan, Fordata merupakan pulau kecil yang terletak di sebelah utara Pulau Tanimbar, dan hanya dihuni oleh 5 desa.
Penemuan 15 situs permukiman kuno Fordata didapatkan saat survei yang dilakukan oleh Balai Arkeologi Ambon pada 11 Maret 2014. Hal itu dalam upaya pencarian jejak perkampungan kuno di Kepulauan Tanimbar bagian utara.

————————————–

Situs Desa Mamuya di P. Halmahera. Situs ini memiliki kekhasan unik dengan batu masa prasejarah
Tipe makam kuno berbentuk perahu yang ditemukan tim dari Balai Arkeologi Ambon di Kecamatan Kao, Halmahera Utara, Maluku Utara. Desa Mamuya memiliki kekhasan unik dengan batu masa prasejarah.

————————————–

Situs di desa Mamuya, P. Halmahera. Tim Arkeologi meneliti peninggalan masa megalitik di Desa Mamuya, Halmahera Utara, 9 Juli 2019.
Megalitik adalah tradisi pemujaan leluhur yang berkembang di Indonesia pada masa prasejarah yakni masa bercocok tanam dan tradisi ini ditandai dengan pembuatan monumen batu besar sebagai media upacara,” kata peneliti prasejarah Balai Arkeologi Maluku, Marlyn Salhuteru.

————————————–

Situs pemukiman kuno di Uifana, P. Ajir. Arkeolog Wuri Handoko dari Balai Arkeologi Ambon mengatakan lapisan budaya di pemukiman kuno Uifana, Pulau Ujir, Kabupaten Kepulauan Aru, sangat tipis karena tak banyak yang bisa ditemukan saat proses ekskavasi pada pertengahan Mei 2015.
“Ekskavasi itu belum tuntas, kami mencoba memperdalam kajian saja, penggaliannya paling dalam baru 80 cm, tapi sepertinya lapisan budayanya tipis karena di bawah 80 cm sudah pasir,” katanya di Ambon.

————————————–

Situs di Tihulale, P. Seram. Batu Meja ini terletak di Haruaman (Aman Harur) Negeri Lama Tihulale. Batu ini mengingatkan pembentukan Negeri Aman Harur (sekarang Tihulale) yang pertama dibawah pimpinan Upulatu Coeripati dan ke 11 Kapitannya. Kondisinya masih baik dan masih tetap dijaga hanya saja waktu pengambilan foto belum sempat dibersihkan. Merupakan batu keramat bagi Mata Rumah Salawane di Tihulale.

Situs di Tihulale, P. Seram. Batu ini terletak di Aman Harur (Negeri Lama Tihulale) yang sekarang menjadi Haruaman. Batu ini dibangun sebagai tanda persekutuan setelah kedatangan Kapitan Tualena dengan kole-kolenya membawa istri dan anaknya saat terpisah dari ketujuh saudaranya. Kondisinya batu kurang terurus, seiring bertambahnya waktu dan gempa bumi menyebabkan batu jatuh dan mulai tertutup tanah sehingga hanya terlihat tiang-tiang penyangganya yang juga mulai miring. Merupakan batu keramat Mata Rumah Tualena di Tihulale.


Create a free website or blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: