.Budaya Maluku: subjek penting

Isi

1) Penjelasan Marga, Matarumah dan SOA
2) Penjelasan Pela dan Gandong
3) Struktur pemerintahan dan masyarakat negeri negeri di Maluku
4) Baileo negeri maluku
5) Tarian Cakalele


1) Penjelasan Marga, Matarumah dan SOA

Marga / Matarumah

Marga atau Fam, merupakan adat-istiadat atau tradisi yang menjadi bagian dari kebudayaan masyarakat Maluku, sebagai nama sebutan Mata-Rumah(Luma-taun) bagi satu kesatuan keluarga besar sekelompok orang dalam satu garis keturunan yang sama atau sedarah (genealogis)  menurut garis keturunan dari  ayah(laki-laki) – patrilineal.
Sejumlah marga merupakan matarumah / rumtau.
Di atas matarumah / rumahtau ada SOA.
Dan di atas SOA ada negeri.

Sumber
https://id.wikipedia.org/wiki/Fam_Maluku

SOA

Desa-desa di Maluku Tengah terdiri dari berbagai SOA. SOA adalah subdivisi desa yang terdiri dari klan eksogami yang biasanya tidak terkait. SOA diwakili oleh kepala SOA yang mewakili SOA di dewan desa (saniri negeri) dan bertanggung jawab atas ketertiban internal.
Matarumah di Maluku Tengah umumnya ditemukan di satu desa asal atau di gugusan desa terdekat. Jadi mungkin bagi orang Maluku untuk segera mengidentifikasi desa asal ketika mereka mendengar dari seseorang nama belakang yang identik dengan nama klan mereka. Ini penting untuk mengidentifikasi orang-orang yang menjadi anggota serikat pela di desa itu yang mendiskualifikasi mereka sebagai pasangan nikah.

Sumber:
https://id.wikipedia.org/wiki/Fam_Maluku
http://alifurusupamaraina.blogspot.com/2019/02/marga-fam-nama-matarumah-orang-maluku.html


2) Penjelasan Pela dan Gandong

Pela adalah suatu sistem hubungan sosial yang dikenal dalam masyarakat Maluku, berupa suatu perjanjian hubungan antara satu negeri (sebutan untuk kampung atau desa) dengan negeri lainnya, yang biasanya berada di pulau lain dan kadang juga menganut agama lain di Maluku (Bahasa Ambon: Tapele Tanjong). Biasanya satu negeri memiliki paling tidak satu atau dua Pela yang berbeda jenisnya.

Sistem perjanjian pela ini diperkirakan telah dikenal atau telah ada sebagai bagian kearifan lokal masyarakat Maluku sebelum masa kedatangan bangsa-bangsa Eropa, terutama Portugis dan Belanda.

Pada prinsipnya dikenal tiga jenis Pela yaitu Pela Karas (Keras), Pela Gandong (Kandung) atau Bongso (Bungsu) dan Pela Tampa Siri (Tempat Sirih).

  1. Pela Karas adalah sumpah yang diikrarkan antara dua Negri (kampung) atau lebih karena terjadinya suatu peristiwa yang sangat penting dan biasanya berhubungan dengan peperangan antara lain seperti pengorbanan, akhir perang yang tidak menentu (tak ada yang menang atau kalah perang), atau adanya bantuan-bantuan khusus dari satu Negri kepada Negri lain.
  2. Pela Gandong atau Bongso didasarkan pada ikatan darah atau keturunan untuk menjaga hubungan antara kerabat keluarga yang berada di Negri atau pulau yang berbeda.
  3. Pela Tampa Siri diadakan setelah suatu peristiwa yang tidak begitu penting berlangsung, seperti memulihkan damai kembali sehabis suatu insiden kecil atau bila satu Negri telah berjasa kepada Negri lain. Jenis Pela ini juga biasanya ditetapkan untuk memperlancar hubungan perdagangan.

Panas Pela

Untuk menjaga kelestariannya maka pada waktu-waktu tertentu diadakan upacara bersama yang disebut “panas Pela” antara kedua Negeri yang berpela. Upacara ini dilakukan dengan berkumpul selama satu minggu di salah satu Negeri untuk merayakan hubungan dan kadang-kadang memperbaharui sumpahnya. Pada umumnya upacara atau gelaran panas Pela diramaikan dengan pertunjukan menyanyi, dansa dan tarian tradisional serta acara lain seperti makan patita/makan perdamaian.
– Video Panas Pela Desa Rumngeur dan Desa Kilmasa (2018): https://www.youtube.com/watch?v=DXisDy37UWE

Sumber:

http://pelagandong.blogspot.com/2013/05/pengertian-pela-dan-gandong-sebagai.html
https://id.wikipedia.org/wiki/Pela
http://historymaluku.blogspot.com/2016/06/pela-gandong-hanya-di-maluku.html


3) Struktur pemerintahan dan masyarakat negeri negeri di Maluku

Negeri negeri Maluku memiliki sistem pemerintahan sendiri. Susunan pemerintahan berdiri atas:
– Raja,
– Saniri,
– Soa,
– Kewang,
– Fam,
– Marinyo.

Untuk penjelasan susunan pemerintahan: https://sultansinindonesieblog.wordpress.com/maluku/struktur-pemerintahan-dan-masyarakat-negeri-maluku/


4) Baileo negeri Aboru

Rumah Baileo adalah rumah adat Maluku dan Maluku Utara. Rumah Baileo merupakan representasi kebudayaan Maluku dan memiliki fungsi yang sangat penting bagi kehidupan masyarakat. Rumah Baileo adalah identitas setiap negeri di Maluku selain Masjid atau Gereja. Baileo berfungsi sebagai tempat penyimpanan benda-benda suci, tempat upacara adat, sekaligus sebagai balai warga.
Lantai baileo dibuat tinggi karena dipercaya agar roh-roh nenek moyang memiliki tempat dan derajat yang tinggi dari tempat berdirinya masyarakat. Dan agar masyarakat tahu permusyawaratan yang berlangsung di balai.
– Sumber:
https://id.wikipedia.org/wiki/Rumah_baileo
* https://kangapip.com/rumah-adat-maluku/
* https://www.romadecade.org/rumah-adat-maluku/#!

Foto foto baileo di Maluku: https://sultansinindonesieblog.wordpress.com/maluku/baileo-di-maluku-foto-foto/


5) Tarian Cakalele

Cakalele adalah tarian perang tradisional Maluku yang digunakan untuk menyambut tamu ataupun dalam perayaan adat. Biasanya, tarian ini dibawakan oleh 30 pria dan wanita. Tarian ini dilakukan secara berpasangan dengan iringan musik drum, flute, bia (sejenis musik tiup).

Para penari pria biasanya mengenakan parang dan salawaku (perisai) sedangkan penari wanita menggunakan lenso (sapu tangan). Penari pria mengenakan kostum yang didominasi warna merah dan kuning, serta memakai penutup kepala aluminum yang disisipi dengan bulu putih. Kostum celana merah pada penari pria melambangkan kepahlawanan, keberanian, dan patriotisme rakyat Maluku. Pedang atau parang pada tangan kanan penari melambangkan martabat penduduk Maluku yang harus dijaga sampai mati, sedangkan perisai dan teriakan keras para penari melambangkan gerakan protes melawan sistem pemerintahan yang dianggap tidak memihak pada rakyat. Sumber lain menyatakan bahwa tarian ini merupakan penghormatan atas nenek moyang bangsa Maluku yang merupakan pelaut. Sebelum mengarungi lautan, nenek moyang mereka mengadakan pesta dengan makan, minum, dan berdansa. Saat tari Cakalele ditampilkan, terkadang arwah nenek moyang dapat memasuki penari dan kehadiran arwah tersebut dapat dirasakan oleh penduduk asli.

– Sumber: https://id.wikipedia.org/wiki/Cakalele
– Sumber: http://www.indonesiakoran.com/news/wisata/read/72945/uniknya.tarian.perang.cakalele.maluku
– Sumber: http://www.negerikuindonesia.com/2015/11/tari-cakalele-tarian-tradisional-dari.html


 

Blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: