Pusaka dan Kitab berusia 13 abad di Sembalun Bumbung

– Sumber: travel.detik.com/domestic-destination/

——————————————–

Sembalun Bumbung adasatu dari enam desa yang berada di Kecamatan Sembalun. Berada di lereng Gunung Rinjani, Sembalun Bumbung memiliki udara yang begitu sejuk dan menenangkan hati.

Beberapa waktu lalu detikTravel kembali memiliki kesempatan berkunjung ke Sembalun. Di sana kami bertemu dengan Ketua Adat Desa Sembalun Bumbung, P Mardisah. Ia menceritakan banyak hal mengenai asal muasal masyarakat yang kini mendiami Sembalun.

“Kalau kita berbicara tentang desa Sembalun atau Sembahulun itu dasar pertama adalah Lendang Luar, itu manusia pertama di sana, yang pada waktu itu dikenal dengan nama Lebi Belik,” ucapnya memulai cerita.

Lebi belik pun memiliki tujuh anak. Anak ketujuh pada keturunan yang kelima itulah yang pertama kali membuat desa di wilayah Sembalun. Desa itu diberi nama Desa Belik yang kini berada di Desa Sembalun Lawang.

“Trah yang kelima itu yang membuat desa di Desa Belik yang pada waktu itu dinamakan Demung Agung Mucar atau Saib Amsah, itu yang pertama membuat desa di Desa Belik,” tambahnya.

Pada waktu itu, masyarakat masih menganut kepercayaan animisme atau memuja kepada leluhur/nenek moyang mereka. Hingga pada abad ke-8 datang penyebar agama Budha yang bernama Budha Portala.

Budha Portala membawa pusaka-pusaka, kitab Zabur, dan tombak-tombak yang hingga kini masih ada dan tersimpan rapi di Sembalun Lawang. Lalu pada tahun 1200-an datanglah orang-orang dari Kerajaan Majapahit yang mengenalkan agama Hindu Jawa kepada masyarakat.

“Tetapi penduduk Sembalun ketika itu ada yang mau ada yang tidak. Termasuk yang bertahan itu namanya Demung Batuah tetap beragama Budha. Lalu yang mau ini namanya Demung Bukit Bau, itu mau masuk ke agama Hindu,” jelasnya.

Terjadilah pertengkaran antara kedua orang itu. Hingga akhirnya datanglah Agung Muncar, seorang pesemedi dari Gunung Rinjani yang waktu itu masih dinamakan Gunung Belik atau Gunung Samalas. Agung Muncar mencoba untuk meleraikan pertengkaran tersebut.

Namun pertengkaran tetaplah pertengkaran, kedua orang tersebut akhirnya diasingkan. Demung Batuah diasingkan ke Gunung Pegasingan, sedangkan Demung Bukit Bau diasingkan ke Sembalun Bumbung.

“Jadi setelah masuk ajaran Hindu, ada peninggalan-peninggalan ini, namanya keris ini itu berelong bedah. Selain itu ada juga tari tradisional yang namanya tari tandang mendet, tombak-tombak ini juga berasal dari Jawa,” ujar sembari menunjukkan pusaka-pusaka peninggalan Majapahit itu.

Hingga pada akhirnya agama Islam pun masuk pada tahun 1360 melalui wali-wali yang datang dari Jawa. Menurut Mardisah, saat itu tak ada penolakan terhadap ajaran agama Islam yang masuk ke Sembalun. Bahkan banyak yang langsung menerima Alquran dan pindah menjadi agama Islam.

Seiring masuknya Islam ke Sembalun Bumbung inilah, Alquran serta kitab-kitab menjadi pedoman hidup masyarakat Sembalun. Hingga saat ini, Alquran dan kitab-kitab yang terbuat dari babak kayu dan kulit onta itu masih tersimpan rapi dan hanya dibuka serta dibersihkan pada acara Maulud Nabi.

“Jadi nama Desa Belik berubah jadi Sembahulun karena kedatangan Alquran dan kitab-kitab ini,” jelasnya.

Hingga kini, Desa Sembalun Bumbung masih menyimpan dan merawat 8 keris, 1 pedang, dan 3 tombak yang berasal dari peninggalan agama Budha, Hindu, dan Islam. Selain itu ada 14 kitab, 1 Alquran besar, dan 1 Alquran kecil yang biasa dipakai saat khotbah Jumat pada jaman dulu, dan 1 kitab Kembang Kencana.