Pekana atau Bahana, kerajaan / Prov. Kalimantan Barat

Kerajaan Pekana (Bahana) adalah kerajaan sebelum kerajaan Mempawah.

Lokasi Mempawah di prov. Kalimantan Barat


* Foto sultan dan raja yang masih ada di Kalimantan: link
* Foto raja2 di Kalimantan dulu: link
* Foto istana kerajaan di Kalimantan: link

* Foto suku Dayak: link
* Foto Kalimantan dulu: link
* Foto perang belanda di Kalimantan, abad ke-19: link


Sejarah kerajaan Pekana (Bahana)

Menurut silsilah bekas kerajaan Mempawah, asal mula kerajaan ini di mana pertama kali Kerajaan Mempawah berdiri, pusat pemerintahannya bukanlah di Kota Mempawah (Ibukota Kabupaten Pontianak) seperti yang dilihat bekas-bekas peninggalannya sekarang ini. Tetapi pusat pemerintahannya pada saat itu berada di kawasan Pegunungan Sidiniang (sekarang berada dalam kawasan Administratif Mempawah Hulu). Kerajaan yang terkenal pada saat itu adalah kerajaan Bangkule Rajakng, ibukotanya berkedudukan di Sidiniang. Bahkan kerajaan ini juga dinamakan kerajaan Sidiniang.

Pada masa pemerintahan seorang penguasa yang diperkenalkan dengan nama Patih Gumantar, kerajaan Bangkule Rajakng (Sidiniang) ini berada dalam suasana kejayaan. Sehingga kerajaan lain, khususnya kerajaan tetangganya bermaksud merebutnya, khususnya oleh kerajaan Biaju (Bidayuh) di Sungkung. Maka terjadilah peperangan kayau (memenggal kepala manusia, head hunting). Meskipun Patih Gumantar dikenal sangat gagah dan sebagai seorang pemberani, namun dengan adanya serangan mendadak, akhirnya Patih Gumantar kalah. Bahkan, kepalanya sendiri terkayau (dipenggal) oleh orang-orang Suku (Dayak) Bidayuh (Biaju). Maka, sejak kematiannya itu, dengan sendirinya kerajaan Bangkule Rajankng mengalami kehancuran. Dan hilang dari peredarannya.

Beberapa waktu kemudian, diperkirakan dalam abad ke-16, atau (ada sementara pendapat) sekitar tahun 1610 M, kerajaan ini seakan bangkit kembali. Meski tidak dengan nama semula, Bangkule Rajakng. Di saat itu disebutkan memerintah seorang penguasa otonom lokal yang di(per)kenal(kan) dengan nama Raja Kudong (ada versi lain menyebutkan panembahan Kudung). Adapun pusat pemerintahannya berada di Bahana atau Pekana (sekarang berada dalam wilayah Administratif Karangan Mempawah Hulu).

Hadirnya kerajaan, Kerajaan Pekana atau Bahana, ini sama sekali tidak ada hubungannya dengan Patih Gumantar atau pun dengan kerajaan terdahulu, Bangkule Rajakng. Setelah Raja (Panembahan) Kudung mangkat, pemerintahan dilanjutkan oleh Panembahan Senggaok atau Panembahan Sengkawuk (ada versi lain menyebutnya Senggauk) yang pusat kerajaannya berada di daerah Sengkauk hulu Sungai Mempawah sekarang.

Namun demikian, ada sumber lain yang mencatatkan, bahwa jauh sebelum memerintahnya Patih Gumantar maupun Panembahan Sengkawuk, pernah pula memerintah seorang penguasa otonom lokal atau seorang raja bernama Patih Rumaga. Pusat pemerintahannya berkedudukan di Bakana, yang belakangan disebut dengan Pekana (di Kecamatan Karangan Mempawah Hulu sekarang). Kerajaan inilah yang semulanya dikenal dengan nama Kerajaan Bangkule Rajakng tadi.

Keturunan Patih Rumaga adalah seorang yang gagah perkasa dan inilah yang diperkenalkan (terdahulu tadi) dengan nama Patih Gumantar. Patih Gumantar merupakan pengganti Patih Rumaga sebagai raja bangkule Rajakng dengan ibukotanya di Bahana. Dalam hidupnya, Patih Gumantar disebutkan beristri seorang putri jelita yang bernama Dara Irang. Mereka dikaruniai dua orang putra, keduanya masing-masing bernama Patih Nyabankng (Patih Ngabang atau Patih Ngabakng) dan Patih Janakng. Di samping itu, mereka juga mendapatkan seorang putri, yang menurut empunya cerita, putri mereka itu diberi nama Dara Itam. (Catalan penulis: Dara Itam ataupun Dara Irang yang dimaksudkan di sini, adalah berbeda dengan Dara Itam yang diperkenalkan dalam sejarah awal pertumbuhan Kerajaan Landak. Dara Itam dalam sejarah Landak berasal dari Kampung Kumia daerah Sepangok kawasan Sungai Tenganap atau Air Besar sekarang).

Patih Gumantar kemudian mendirikan pusat kerajaan yang baru di sebuah kaki bukit yang bernama Bukit Kandang. Sejak itulah Kerajaan Bangkule Rajakng berganti nama menjadi Kerajaan Sebukit atau Sebukit Rama. Setelah Patih Gumantar mangkat dan dimakamkan di bukit itu, ia digantikan oleh putranya yang bernama Patih Ngabang (Patih Ngabang atau Panembahan Ngabakng). Kemudian setelah Patih Ngabang wafat, ia digantikan oleh putranya yang bemama Patih Sengkawuk.


Sumber

https://kalbariana.web.id/bangkule-rajakng/
https://debiangraenilestari.blogspot.com/2019/02/sebelumnya-berlandaskan-agama-islam.html


 

Blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: