Sejarah kerajaan Batu Wangi

Tulisan di bawah di ambil dari: https://muroseva.blogspot.com/2019/10/misteri-kerajaan-batu-wangi-cadu.html

—————————

Dalam sebuah mitos tidak terlepas dari  yang namamnya sejarah. Kali ini saya akan mengangkat sebuah mitos dari tanah sunda tepatnya di daerah selatan garut kecamatan singajaya. Mitosnya yaitu cadu hulu hayam tak sudi memakan daging kepala ayam. Mitos ini berlaku bagi turunan kerajaan batu wangi.

Pada jaman kerajaan galuh ada sebuah kerajaan yang terletak di Garut Selatan di daearah Singajaya yang bernama kerjaan Batu Wangi yang dipimpin raja arif bijaksana dan berilmu tinggi. Raja itu bernama Marjyahiang Bayu Prabu Pahayu Kinasihan bin Guru Gantangan atau Sunan Batu Wangi.

Kerajaan batu wangi adalah kerajaan yang subur makmur rahayu. kekuasan batu wangi meliputi dari Singajya sampai Cikajang dan kerajaan ini ahli dalam pertanaian dan pertambangan. kesaktian Sunan Batu Wangi sudah diakui oleh raja-raja Tanah Jawa.

Dalam suatu ketika kerajaan batu wangi diserang oleh pendekar sakti mandra guna yang bertapa di sebuah goa mendengar kabar pendekar ini bahwa ada raja sakti mandraguna di daerah selatan pasundan. Pendekar ini ngin menjajal kesaktiaanya. Ia  mengirimkan batu sebesar gunung ke arah kraton kerajaan Batu Wangi  dan semua yang ada di kerajaan pun panik lalu melapor pada Sunan Batu Wangi. Sang sunan pun hanya meniup batu tersebut yang terbang ke arah kerajaan. Seketika batu tersebut hancur lebur dan berserakan di sana. Prajurit dan masyarakat takjub kepada beliau. Dari sana lah nama Sunan Batu Wangi terkenal masyhur. Semenjak itu tidak ada lagi yang berani menyerang kerjaan Batu Wangi.

Kerajaan Batu wangi menpuyai pusaka yang sakti mandraguna yaitu pusaka Guntur Bumi. Pusaka itu berupa pisau panjang bergagang garuda dan dibutiri berlian. Pusaka itu selalu dicuci setiap bulan Mulud.

Ada sebuah naskah kuno yang menceritkan perjalanan Sunan Batu Wangi dalam menyebarkan ajara Islam dan menceritakan turunan dan Sunan Batu Wangi pun menpunyai ilmu yang menjadi ciri khas yaitu  Asihan Batu wangi dan selalu dibacakan pada bulan Mulud dan dibudayakan sampai sekarang.

Sunan Batu Wangi dianugrahi  putri yang sangat cantik. Kecantikannya  sampai terdengar se Tanah Jawa. Putri tersebut bernama Nyimas Kentring Manik.  Sunan batu wangi selalu berharap putrinya  bisa mendapatkan pasangan hidup yang arif bijaksana dan patuh kepada kedua orang tua.

Nyimas selalu menimbulkan peperangan. Untuk merebutkan Nyimas Kentring Manik setiap pendekar dan raja sampai menimbulkan perseteruan yang hebat. Sunan Batu Wangi  sering bertafakur dan bersemedi dalam mencari seseorangan yang pas buat putri cantiknya yang ayu rahayu dalam cerita bersemidi sang raja di sebuah gunung mendapatkan sebuah petunjuk.

Akan datang di sebuah kerajaan Galuh yang akan meminang putrinya. Petunjuk itu menimbulkan banyak pertanyaan bagi sang raja, karena petunjuk tersebut menurutnya adalah sesuatu hal yang akan menimbulkan malapetaka. Hingga akhirnya dalam semedi penajang pun sang raja tidak mendapatkan jawaban pasti atas sebuah petunjuk yang ia dapatlan dan sang raja pun menyudahi semedinya dan kembali pulang ke kerajaan.

Dalam perjalanan pulang, sang raja selalu bertemu dengan seokar ayam, tapi beliau tidak menghiraukannya hingga sampailah sang raja Batu Wangi ke kerajaannya sendiri.  Semua penghuni kerajaan menyambutnya. Sang putri paling antusias menyambut sang ayah karena ingin tau kabar dari sang ayah dalam mencari petunjuk untuk dirinya dalam mencari pasangan. Tiadk lama kemudian, sang putri merasa heran karena ayahanda terlihat berwajah muram, bingung, tapi ia mengira mungkin ayahanda lelah dan butuh istirhat. Nyimas putri kentring manik pun selanjutnya mempersilahkan sang ayah untuk beristirahat.

Keesokan harinya baru lah sang raja Batu Wangi menceritakan tentang semedinya kepada  sang putri. Raja Batu Wangi pun menerangkan bahwa akan ada pria yang jauh di sana, tepatnya berada di tanah galuh  yang akan  mempersunting. Nyimak Kentring Manik pun terheran-heran. Selain itu ditambah dengan raut wajah ayahnya selalu muram. Namun ia tidak banyak bertanya, mungkin keadaan ayahnya tengah kelelahan sehabis semedi panjang.

Kerajaan Galuh memiliki anak dua bersaudara yang bernama Ranggga Wulung dan Rangga Dipa. Dalam keadan apapun mereka selalu bersama, entah itu dalam melatih ilmu, berperang, sampai kesaktiannya terkenal di mana-mana.

Sang kakak, Rangga Wulung mendengar kabar bahwa ada sayembara. Ada seorang putri cantik yang mencari pasangan. Ia pun bercerita  kepada sang adik Rangga Dipa bahwa ia mendengar kabar di tanah Pasundan ada sayembara seorang putri raja yang cantik rahayu mencari pasangan. Rangga Wulung terlihat sangat antusias dengan kabar itu. Sang adikpun merasa heran kenapa sang kaka merasa tertarik dan berambisi. Tak seperti biasanya sang kaka bertingkah seperti itu.

Rangga Dipa memiliki pemikiran berbeda. Ia malah berpikir begitu jauh. Jika kakaknya menikah, ia akan berpisah dan tidak akan bersama-sama lagi seperti biasa. Rangga Dipa pun tiba-tiba merasa sedih dengan semua ini. Rangga Wulung pun merasa heran dengan raut wajah adiknya yang terlihat seperti sedih. Rangga Dipa pun bercerita perihal kesedihannya hingga akhirnya Rangga Wulung pun berjanji tidak akan pernah meninggalkan adiknya walaupun sudah menikah kelak.

Waktu terus berjalan, mereka pun mencari informasi perihal kerajaan mana yang akan mengadakan sayembara. Semua tempat yang berpotensi dapat memberi informasi mereka datangi. Namun tidak ada jawaban satu pun yang memberi mereka petunjuk hingga memutuskan untuk kembali pulang ke kerajaan.

Suatu ketika mereka dipanggil oleh ayahanda dan di beri tugas untuk berkelana ke daerah selatan pasundan dan belajar ilmu bercocok tanam di sebuah kerajaan bernama Batu Wangi yang sangat terkenal  ahli dalam bercocok tanam. Dengan berbagai petimbangan akhirnya mereka pun mematuhi dan tunduk pada perintah sang ayahanda.

Dua bersaudara itu esoknya langsung berpamitan dan meminta doa untuk berangkat ke daerah selatan pasundan yaitu ke kerajaan Batu Wangi. Anehnya kedua bersaudara itu seolah lupa pada sayembara itu dan focus pada tujuan utamanya untuk mencari ilmu atas perintah ayahnya.

Setelah menempuh perjalanan yang begitu panjang, sampailah kedua bersaudara tersebut ke daeraha istna kedalaman Batu Wangi dan disambut oleh pihak keraajan lalu dipersilahkan masuk ke dalam istana. Mereka pun bertemu Raja Batu Wangi. Mereka berdua kaget dan takjub kepada sang raja karena walaupun sakti dan berkuasa, ia sangat ramah terhadap tamu.

Sang raja pun bertanya perihal kedatangan mereka berdua. Lalu sang raja pun menebak bahwa kedua orang tamunya adalah putra mahkota kerajaan. Mereka pun kaget dan gemetar karena bisa menebak identitas mereka. Akhirnya mereka menjelasakan maksud kedatangan mereka bahwa sesungguhnya mereka diutus oleh ayahnya untuk belajar bercocok tanam di kerajaan ini. Mereka pun menjelasakan asal muasal tentang kerajaan dan ayahnya.

Sang raja sedikit tersentak mendengar jawaban dari mereka. Ia bertanya-tanya dalam hati, mungkinkah salah satu dari merekalah yang dimaksud petunjuk dalam persemediannya pada waktu lalu. Apakah salah satu dari mereka kelak akan menjadi calon suami putrinya?

Sejenak sang raja mengenyampingkan dulu segala bentuk kecurigaan atas keanehan yang terjadi. Demi menghormati tamu, akhirnya sang raja mempersilakan mereka untuk tinggal dan ikut belajar bercocok tanam di kerajaan Batu Wangi. Setelah beberapa saat setelah mereka berdua undur diri, sang raja pun mulai sedikit panik. Ia merasa sedikit gelisah akan bahaya yang akan datang kepada kerajaan Batu Wangi bila terjadi pernikahan antara putrinya dengan putra Raja Galuh.

Singkat cerita dua bersaudara ini mulai belajar ilmu bercocok tanam kepada pihak kerajaan. Selang beberapa hari, Nyimas Kentring Manik disuruh ayahnya untuk bersemedi d sebuah desa selatan pasundan. Hal itu sengaja dilakukan sang raja supaya putrinya tidak bertemu dengan dua bersaudara dari Galuh. Sang raja takut bila putrinya jika sering bertemu dengan mereka, akan timbul benih benih cinta dan terjadilah apa yang ia takutkan.

Tuhan berkendak lain. Selang beberapa hari  Nyimas Kentring Manik pulang ke krataon Batu Wangi karena sakit dan tidak bisa melanjutkan semedinya. Sang putri pun menghadap pada ayahanda yang tengah berdiskusi masalah ilmu bercocok tanam dengan dua putra mahkota raja Galuh yaitu Rangga Wulung  dan Rangga Dipa. Sang raja pun terkejut dengan kedatangan putrinya.

Sang raja bertanya perihal kembalinya sang putri. Nyimas Kentring Manik pun menjelaskan masalah keadaannya yang kurang sehat. Dengan berat hati dicampur dengan belas kasihan, akhirnya ia meminta putrinya untuk beristirahat dahulu sampai benar-benar sehat.

Pada sudut lain dua bersaudara putra mahkota Galuh terkesima melihat seorang gadis cantik ayu seperti titisan dewi cantik dari khayangan. Raja Batu Wangi pun memperkenalkan putrinya kepada mereka. Kedua bersaudara itu hanya bergeming dan tak mampu berkutik bahasa.

Rangga Wulung dan Nyimas Kentring manik terlihat seolah memaku pandangan. Mereka seakan pernah bertemu sebelumnya bahkan lebih lama lagi. Raja Batu Wangi pun mulai gelisah. Ini yang ia takutkan, benih benih cinta yang harus dimusnahkan. Rangga Wulung seperti tertarik begitu khusuk pada kecantikan dalam pandangan pertama, tak seperti adiknya Rangga Dipa yang terlihat biasa-biasa  saja.

Sang Raja pun semakin merasa bingung, dilema menerpa ketika teringat  akan petunjuk semedinya. Bila terjadi pernikahan antara putri kesayangannya dengan putra mahkota Galuh, hal yang tidak diinginkan ditakutkan benar-benar terjadi.

Nyimas Kentring Manik pun teringat dengan petunjuk ayahanda. Pasangannya diterawang adalah seseorang dari tanah kraton Galuh. Semkin kuatlah rasa penasaran Nyimas Kentring Manik untuk mengenal lebih dekat dengan Rangga Wulung. Begitu pun dengan Rangga Wulung, semakin hari semakin merasa tertarik dengan bidadari tak bersayap yang selalu ia dambakan.

Beberapa hari berselang, Rangga Wulung semakin berani dan antusias mendekati Nyimas Kentring Manik. Mereka semakin dekat karena kedua bersaudara dari Galuh secara tidak langsung banyak mempertanyakan dan belajar kepada Nyimak Kentring Manik mengenai dunia pertanian. Sang putri pun sangat bersemangat membantu mereka. Waktu berlalu, hari hari semakin membalut rasa cinta antara Rangga Wulung dan Kentring Manik. Hal tersebut tak dapat dibendung kedekatan mereka semakin memuncak.

Sang raja mendengar desas-desus kedekatan antara Rangga wulung dan putrinya. Ia pun tak bisa berbuat apa-apa selain mengharapkan kebaikan dari apa yang selama ini terjadi, petunjuk, kisah, situasi yang memaksanya untuk menerima.

Rasa cinta Rangga Wulung semakin terasa menghipnotis dirinya sendiri. Ia ingin sekali segegra meminang Nyimas Kentring Manik. Singkat cerita setelah berbagai pertimbangan, kedua bersaudara itu pulang ke Galuh. Rangga Wulung berbicara kepada ayahnya dengan terpaksa menberanikan diri. Ia ingin diantar untuk menikahi putri dari Kerajaan Batu Wangi. Dengan berbagai pertanyaan yang dilontarkan sang ayah, simpulnya semua siap untuk mengantar Rangga Wulung menjemput jodohnya. Akhirnya keduanya dinikahkan.

Awal mula petaka itu terjadi. Setelah pesta perkawinan, ada sebuah acara makan malam antara kedua keluarga mempelai. Kala itu Nyimas Kentring Manik memakan daging ayam. Saat iya mulai mengigit kepala ayam, tiba-tiba isi kepala ayam itu menciprat ke dadanya dan mengotori bagian dada Nyimas Kentring Manik. Spontan Rangga Dipa sang adik Rangga Wulung yang pertama kali melihat, bergegas menghampiri Nyimas Kentring Manik dan menyeka kotoran itu dengan bajunya.

Entah setan apa yang merasuki sang kaka, Rangga Wulung yang dikendali rasa cemburu buta. Melihat sang adik membersihakan dada Kentring Manik seketika marahnya meruncing. Ia mencabut senjata keris dan langsung menancampkan ke arah rongga dada sang adik kesayangan.  Rangga Dipa pun tersungkur dan semua yang ada di sana kaget melihat lumaran darah. Raja Batu Wangi marah besar dan tiba tiba ia baerkata sumpah, gara-gara kepala ayam terjadi pertumpahan darah. Maka dari mulai saat itu keturunan Kerajaan Batu Wangi dilarang memakan kepala ayam.

Dari kisah itulah asal muasal semua keteturan Batu Wangi cadu makan kepala ayam atau tak sudi lagi memakan kepala ayam dan sampai saat ini larangan ini masih berlaku kepada keterunan Kerajaan Batu Wangi dan mitosnya bila dilanggar, keturunannya akan mendapatkan penyakit kulit aneh. Itulah mitos dari legenda bagi masyarakat Singajaya  yang berada di daerah Selatan Garut yang masih menyimpan misteri sampai saat ini.        


 

Create a free website or blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: