Manggarai, Wilayah / Nusa Tenggara Timur – Flores *

under construction !

Wilayah Manggarai terletak di pulau Flores, Kabupaten Manggarai dan Manggarai Barat.

Kabupaten Manggarai Barat

Kabupaten Manggarai Barat

Kabupaten Manggarai

Kabupaten Manggarai

 

 

 

 

 

Lokasi Flores

Lokasi Flores

——————————————————————————————————————————-
* Foto Manggarai: link

* Foto foto Flores dulu dan situs kuno: link
——————————————————————————————————————————
1 Tentang Raja / About the king
2 Sejarah / History wilayah Manggarai
3 Tentang Dalu: Wilayah Adat di Flores
4 Kerajaan Manggarai (1925) dan raja raja Manggarai
5 Daftar Raja wilayah Manggarai sebelum persatuan / List of kings
6 Sumber / Source
———————————————————————————————————————
1) Tentang Raja / About the king

Present Raja: Keturunan Raja Manggarai hadir pengobatan sultan Bima: link.
The descendents of the king of Manggarai attended the installation of the Sultan of Bima.

Comment of mr D.Tick on this on 2-2-2014 (mr D. Tick, Pusat Dokumentasi Kerajaan2 di Indonesia “Pusaka”)

Mereka bukan keluarga kerajaan Manggarai, tetapi districtrulers dari Reo di bawah Sultan Bima. Ketika kerajaan Manggarai dibuat di bawah Raja Alexander Baroek, sub-kerajaan ini terintegrasi di Manggarai dan berhenti untuk eksis. Sub-kerajaan yang lain di Manggarai kemudian diakui oleh Belanda adalah Labuhan Bajo di bawah raja lain yang disebut Daeng Melawa. Kedua penguasa turun tahta 21-9-1929. Ketika Manggarai harus menjadi kerajaan independen baru, mereka juga berpikir untuk membuat anak sultan Bimas raja baru Manggarai, tapi kemudian mereka memilih untuk dinasti lebih lokal. Raja Alexander Baroek menjadi raja yang pertama di bawah satu kabupaten. Saudaranya adalah raja terakhir di Manggarai, disebut Raja Constasntinus Ngambut.
——————

They are not the royal family of Manggarai, but the districtrulers of Reo under the sultan of Bima. When Manggarai kingdom was made under Raja Alexander Baroek, this sub-kerajaan was integrated in Manggarai and stopped to exist. The other sub-kerajaan in Manggarai then recognised by Holland was Labuhan Bajo under another raja bicara called Daeng Melawa. Both rulers abdicated 21-9-1929. When Manggarai had to be a renewed independent kingdom, they also thought to make a son of the sultan of Bimas the new king of Manggarai, but then they chose for the more local dynasty. Raja Alexander Baroek became the 1st raja under a regency. His brother was the last ruling king of Manggarai actually called Raja Constasntinus Ngambut.
—————————————————————————————————————————
2) Sejarah wilayah Manggarai

Sebelum Belanda menguasai Manggarai pada 1908, ada sejumlah kerajaan kecil berdaulat di Mangggarai. Kerajaan-kerajaan tersebut adalah Lamba, Cibal, Welak, Todo-Pongkor dan Bajo.
Diantara kerjaan-kerajaan itu, kerajaan Cibal atau Nggaeng Cibal dan Adak Todo pernah terlibat dalam beberapa kali pertempuran dalam rangka memperluas teritori kekuasaan.

Pertempuran pertama antara Cibal dan Todo adalah pertempuran di Reok dan Rampas Rongot atau dikenal dengan Perang Rongot. Pertempuran ini dimenanagkan Cibal. Perang Rongot ini melahirkan perang-perang berikutnya, yaitu Perang Weol I dan Weol II.

Pada perang Weol I, kemangan masih ada pada pihak Cibal. Tetapi pada perang Weol II dimenangkan oleh Todo sehingga batas kerajaan adak Todo bukan lagi sampai di Wae Ras dekat Cancar, tetapi sampai jauh ke dekat Beo Kina (Rahong Utara).

Kemudian, perang berikut adalah perang Bea Loli di Cibal. Pada perang Bea Loli, Cibal kembali kalah. Sehingga menurut cerita Watu Cibal dibawah ke Todo.

Setelah itu, Todo-Pongkor memperluas wilayah ke arah timur di Borong. Maka, terjadilah perang Adak Tana Dena. Akibat perang Adak Tanah Dena ini, batas Todo-Pongkor meluas hingga Watu Jaji.
Pada saat Todo-Pongkor konsentrasi mengikuti perang Adak Tanah Dena, pasukan Nggaeng Cibal melancarkan serangan ke pusat kekuasaan Todo-Pongkor. Saat itu, terjadi pembakaran rumah adat Todo, yang disebut tapa niang dangka,poka niang wowang.

Konon, niang dangka saat itu tak bisa dibakar. Pasukan dari Nggaeng Cibal kemudian memperdayai seorang perempuan tua yang namanya Kembang Emas saudari dari Kraeng Mashur Nera Beang Lehang Tana Bombang Palapa untuk mengetahui mengapa niang dangka tidak bisa dibakar.

Perempuan tersebut kemudian memberti tahu niang dangka bisa dibakar bila bisa mengambil jimat yang ada dibubungannya. Pasukan dari Cibal pun mengambil jimat di atas bubungan.
Lalu, kemudian baru bisa membakar niang dangka tersebut. Sayangnya, mereka juga membakar perempuan yang memberitahu keberadaan jimat itu. Pasukan Cibal berusaha mengembalikan Watu Cibal yang dicaplok pada perang Weol II, namun tak bisa diangkat. Sampai sekarang Watu Todo dan Watu Cibal tertancap bersanding di kampung Todo.

Tahun 1907 Belanda masuk ke Manggarai dan hendak mendirikan pusat kekuasaan sipil di Todo. Namun, karena topografinya yang kurang baik, lalu pindah ke Puni, Ruteng. Secara resmi Belanda menaklukan Manggarai pada 1908.

Ketika Belanda mulai menguasai Manggarai, Raja Todo (1914-2924) yaitu Kraeng Tamur dipindahkan ke Puni.

Dalam perjalanan sejarahnya, Belanda melihat Manggarai yang meliputi Wae Mokel awon (batas timur) dan Selat Sape salen (batas barat) adalah satu kesatuan yang utuh. Tidak ada lagi Cibal, tidak ada lagi Todo, tidak ada lagi Bajo, maka disebutlah Manggarai.

Karena itulah, pada tahun 1925, melalui suatu surat keputusan dari Belanda, Manggarai menjadi suatu kerajaan dan diangkatlah orang Todo-Pongkor menjadi raja pertama yaitu Raja Bagung dari Pongkor.

Kerajaan Manggarai bentukan Belanda ini terdiri atas 38 kedaluan.
————————————————————————————————————————

3) Tentang Dalu: Wilayah Adat di Flores

Pada zaman dulu di Manggarai terdapat sebuah kerajaan. Pada masa sekarang sisa-sisanya masih kelihatan berupa pembagian wilayah tradisional ke dalam wilayah adat yang disebut dalu. Pada zaman dulu jumlah dalu ini sampai 39 buah. Tiap-tiap dalu dikuasai oleh satu klen atau wau tertentu. Dalam setiap dalu terdapat beberapa buah glarang dan di bawahnya lagi terdapat kampung-kampung yang disebut beo. Orang-orang dari wau yang dominan dan menguasai dalu menganggap diri mereka sebagai golongan bangsawan. Antara satu dalu dengan dalu lainnya sering mengadakan aliansi perkawinan dalam sistem yang mereka sebut perkawinan tungku (semacam perkawinan sepupu silang). Antara dalu dengan glarang sering pula terjadi perkawinan, karena sebuah glarang umumnya juga dikuasai oleh sebuah wau dominan.

Dalu sebagai bawahan kerajaan dipimpin oleh seorang kraeng, yang biasanya dipanggil Kraeng Adak. Kraeng yang dianggap berjasa berhak memperoleh gelar Sangaji dari raja.
———————————————————————————————————————–
4) Kerajaan Manggarai (1925) dan raja raja Manggarai

Pada tahun 1925, melalui suatu surat keputusan dari Belanda, Manggarai menjadi suatu kerajaan dan diangkatlah orang Todo-Pongkor menjadi raja pertama yaitu Raja Bagung dari Pongkor.

Kerajaan Manggarai bentukan Belanda ini terdiri atas 38 kedaluan. Bersamaan dengan diangkatnya Raja Bagung, Belanda juga menyekolahkan Kraeng Alexander Baruk ke Manado.

Alexander Baruk adalah anak dari Kraeng Tamur, raja Todo. Tahun 1931/1932, Alexander Baruk kemabli dari sekolahnya. Lalu, kemudian diangkat menjadi raja Manggarai. Namun, karena raja Bagung masih hidup, maka keduanya tetap raja. Raja Bagung sebagai “raja bicara” sedangkan yang mengambil keputusan adalah Raja Baruk. Sehingga dulu ada istilah putus le Kraeng Wunut, bete le kraeng Belek.

Kekuasaan keduanya berakhir saat keduanya meninggal dunia. Raja Bagung meninggal 1947. Sedangkan, Raja Baruk meninggal 1949. Kemudian, keduanya diganti oleh Kraeng Langkas atau Kraeng Constantinus Ngambut, juga dari Todo, menjadi raja hingga 1958.

Saat Manggaria menjadi daerah swaparaja, Kraeng Ngambut masih memimpin Manggarai sebagai kepala daerah hingga 1960.

– Sumber: http://www.floresa.co/2015/08/13/sejarah-kekuasaan-di-manggarai-raya-dari-perang-todo-vs-cibal-hingga-pilkada-langsung/

—————————————————————————————————————
5) Daftar Raja wilayah Manggarai sebelum persatuan / List of kings
.
1) Raja Lanur, yang berasal dari Wudi.
2) Raja Sehak, yang berasal dari Ntala Ruteng.
3) Raja Lontar, yang dijuluki Melondek berasal dari Cabo bagian Cibal.
4) Raja Tamur, berasal dari Todo.
5) Raja Ngambuk, yang juga berasal dari Todo.
6) Dan raja yang terakhir Raja Barut.
————–
1)  King Lanur from Wudi.
2) King Sehak from Ntala Ruteng.
3) King Lontar, named Melondek, from Cabo Cibal.
4) King Tamur, from Todo.
5) King Ngambuk,  from Todo.
6) The last king is king Barut.

– Sumber: link
——————————————————————————————————————————–
6) Sumber / Source

Sejarah kekuasaan Manggarai Raya: http://www.floresa.co/2015/08/13/sejarah-kekuasaan-di-manggarai-raya-dari-perang-todo-vs-cibal-hingga-pilkada-langsung/
– Sejarah Manggarai: http://angelinhomenggot.blogspot.co.id/2014/04/kabupaten-manggarai-sejarah.html
Suku Manggarai: http://www.wisataflores.com/2015/03/orang-manggarai-bagian-pertama.html
– Tentang wilayah adat Flores, Dalu: http://suku-dunia.blogspot.co.id/2014/12/sejarah-suku-manggarai.html
Manggarai pernah miliki 6 raja: link
Sejarah Manggarai: http://kraengadhy.blogspot.co.id/2009/05/sekilas-sejarah-manggarai.html
– Keturunan Raja Manggarai hadir pengobatan sultan Bima: link.
———————-

——————-
English
.
History of Flores: Wiki
———————————————————————————————————————————
Leader of Manggarai-Flores raja dynasty Raja Muda Alexius Ngambut with his wife - silvia prastyo, fb

Leader of Manggarai-Flores raja dynasty Raja Muda Alexius Ngambut with his wife. Sumber foto:  silvia prastyo, FB.

———————————————————————————————————————————-

Leave a comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: