Sejarah singkat Puri Agung Carangsari

————————————————————————————————————-
Sumber info di bawah: Puri Agung Carangsari

Puri Agung Carangsari didirikan oleh Radja Kerajaan Payangan yang terakhir, dari Dinasti Patjoeng Prami, yang bergelar: Ida Tjokoratu Agung Patjoeng Gede Oka ( I Goesti Ngoerah Patjoeng Gede Oka). Beliau adalah Radja Payangan kedua, yang menggantikan ayahandanya Ida Tjokoratu Agung Patjoeng Gede. Ida Tjokoratu Agung Patjoeng Gede (Ida I Goesti Ngoerah Patjoeng Gede) ini adalah Putra Mahkota dari Radja Perean terakhir dari prami ( permaisuri ), yang bergelar: Ida Bathara Patjoeng Shakti (Ida I Goesti Ngoerah Patjoeng Shakti).

Radja Perean terakhir: Ida Bhatara Patjoeng Shakti (Ida I Goesti Ngoerah Patjoeng Shakti) memiliki beberapa putra, dari istri yang berbeda:

1. Putra pertama (Putra Mahkota) dari permaisuri (prami) bergelar: Ida Tjokoratu Agung Patjoeng Gede (Ida I Goesti Ngoerah Patjoeng Gede).Beliau inilah yang kemudian menurunkan dinasti baru, yang mendirikan Puri Kerajaan Payangan (dari Dinasti Patjoeng Prami) dan menjadi Radja pertama Kerajaan Payangan dari Dinasti Patjoeng Prami. Ida I Goesti Ngoerah Patjoeng Gede yang sebagai Radja Payangan pertama ini berputra 3 orang. Setelah beliau uzur, kemudian putra pertama beliau, menggantikan kedudukan beliau sebagai Radja Kerajaan Payangan yang kedua dari Dinasti Patjoeng Prami, yang bergelar Ida Tjokoratu Agung Patjoeng Gede Oka (Ida I Goesti Ngoerah Patjoeng Gede Oka). Beliau juga yang kemudian mendirikan Puri Agung Carangsari dan menjadi Radja pertama di Carangsari. Sedangkan putra kedua beliau yang bernama I Goesti Ngoerah Rai, mendirikan Puri Agung Petang.

2.Putra kedua dari Ida Bhatara Patjoeng Shakti yang berasal dari istri seorang selir (penawing), bernama: Ida Aryya.Beliau kemudian mendirikan dinasti baru, yang diberinama Dinasti Ida Aryya, yang merupakan cikal bakal berdirinya Puri Gede Marga, Puri Gede Perean (Puri Perean kedua,yang didirikan oleh kerabat Puri Marga) serta Puri Gede Belayu.

Radja Perean terakhir: Ida Bhatara Patjoeng Shakti diketahui moksa disekitar reruntuhan Puri Agung Perean (Puri Lingsir Perean,sebagai Puri Perean pertama), dengan mengendarai Naga Kahang (Naga Bersayap). Sisa-sisa reruntuhan puri beliau ini kemudian dijadikan pura, yang dikenal sekarang sebagai “PURA AGUNG PEREAN.” Setelah beliau moksa,beliau bergelar: “IDA TJOKORATU BATHARA PATJOENG SAKTI”

Putra Mahkota beliau yang bergelar: Ida I Goesti Ngoerah Patjoeng Gede, kemudian mengeluarkan Bishamma,bahwa: hanya keturunan Ida I Goesti Ngoerah Patjoeng Gede_lah yang berhak wajib dan harus memakai pawalungan Naga Kahang (Naga Bersayap) pada setiap upacara palebon ageng (ngaben gede atau kremasi besar).

Ida I Goesti Ngoerah Patjoeng Gede, kemudian memindahkan pusat pemerintahan ayahandanya ke sebelah barat sungai ayung. Disana beliau mendirikan Kerajaan Payangan. Beliau inilah kemudian menjadi Radja Kerajaan Payangan pertama, dari Dinasti Patjoeng Prami.Putra Mahkota beliau yang bernama Ida I Goesti Ngoerah Patjoeng Gede Oka, setelah dewasa diangkat sebagai pengganti beliau sebagai Radja Payangan ke-2 (dari Dinasti Patjoeng Prami), dengan gelar: Ida Tjokoratu Agung Patjoeng Gede Oka.

Akibat masalah internal, beliau kemudian meninggalkan Puri Kerajaan Payangan dan memindahkan pusat pemerintahannya ke arah barat sungai ayung. Disana beliau mendirikan Puri Agung Carangsari dan menjadi Radja Carangsari pertama. Sedangkan Puri Kerajaan Payangan yang ditinggalkan beliau, dijadikan pura oleh penduduk setempat dan sekarang dikenal dengan nama “PURA SARI.”

Karena terjadi kekosongan pemerintahan di payangan, keturunan Ida I Dewa Anom Pemayun dari Dinasti Pemayun, yang kemudian melanjutkan pemerintahan di Payangan. Sedangkan Ida Tjokoratu Agung Patjoeng Gede Oka, sudah memiliki pemerintahan tersendiri di Punging Puspa / Carangsari, yang daerah kekuasaannya meliputi semua wilayah dari desa Samuan di perbatasan Sangeh Abiansemal sampai ke ujung utara perbatasan Bangli & Buleleng yaitu desa Bon di Belok Sidan (kecamatan Petang). Hal ini ditandai dengan dipugarnya Pura Pucak Antapsai Bon, sebagai penentu batas dengan desa Catur Kintamani Bangli dan desa Tambakan Buleleng.

Untuk menghindari perselisihan berkepanjangan dikedua belah pihak, akhirnya kedua belah pihak mengeluarkan bhisamma dan bersumpah sehidup semati,tidak saling menyerang antara Puri Agung Carangsari (sebagai penguasa lama Kerajaan Payangan dari dinasti Patjoeng Prami) dengan Puri Agung Payangan (penguasa baru Kerajaan Payangan dari Dinasti Pemayun).

Bukti sejarah masih dapat dilihat hingga sekarang, dimana di pelataran Pemerajan Agung (Pura Keluarga) Puri Agung Payangan, terdapat sebuah pelinggih untuk memuja Ida Tjokoratu Agung Patjoeng Gede, sebagai Radja pertama Payangan (Dinasti Patjoeng Prami) dan Ida I Goesti Ngoerah Patjoeng Gede Oka, sebagai Raja terakhir Kerajaan Payangan Lingsir dari Dinasti Patjoeng Prami, sekaligus sebagai Radja Carangsari pertama, yang mendirikan Puri Agung Carangsari.

Semenjak saat itu, siapapun yang diangkat menjadi: Anglurah (Radja), Regent (Adipati), Punggawa (Kepala District), Manca (Kepala Onderdistrict), Penglingsir/Pamucuk (Kepala Istana/Keraton) di lingkungan Puri Agung Carangsari, berhak memakai gelar “PATJOENG / PACUNG” dibelakang gelar abishekka (penobatan gelar kebangsawanan), sebagai penerus “Dinasti Patjoeng Prami / Dinasti Pacung” yang sah di lingkungan Puri Agung Carangsari.
—————————————————————————————————————–

Create a free website or blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: